Bupati Ponorogo Membeber Makna Filosofis 3 Pusaka yang Dibedol dan Dikirab
- 06 Jul 2024 12:58 WIB
- Madiun
KBRN, Ponorogo: Tiga pusaka milik Pemerintah Kabupaten Ponorogo selalu dikirab setiap tahunnya menandai peringatan 1 Suro/Muharram dalam rangkaian peringatan Grebeg Suro.
Tak terkecuali pada perayaan Grebeg Suro 2024 kali ini tiga pusaka bersejarah Bumi Reog, dibawa menuju kota lama, di Kelurahan Setono kecamatan Jenangan, di kompleks pemakaman Batoro Katong (Bupati Pertama Ponorogo) pada Jumat malam, (5/7/2024).
Untuk Kemudian dikirab keesokan harinya, Sabtu (6/7/2024) siang dalam Kirab Lintas Sejarah dan Jamasan Pusaka Grebeg Suro 2024.

Tiga pusaka tersebut adalah pusaka payung “Songsong Tunggul Nogo”, tombak “Tunggul Wulung”, dan sabuk atau kemben “Cinde Puspito”.
“Yang kami arak ini bukanlah benda, namun spirit dan makna mendalam simbol dari pusaka itu,” ucap Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko.
Bupati Sugiripun mengurai makna filsofis tiga pusaka itu. Tombak Tunggul Wulung dimaknainya sebagai representasi keberanian dan jiwa kepemimpinan yang siap menjadi garda terdepan dalam membela masyarakat.
“Seorang pemimpin jangan mengorbankan rakyat untuk keselamatannya sendiri, harus pasang dada di depan rakyatnya, sehingga kenapa dinamai Tunggul Wulung,” jelas Sugiri.
Songsong atau payung Tunggul Nogo juga memiliki makna luhur representasi jiwa kepemimpinan yang melindungi.
“Leluhur kami mengharapkan bahwa seorang pemimpin harus bisa mengayomi masyarakatnya seperti payung,” ulasnya
Serta pusaka ketiga ialah sabuk Cinde Puspito atau kemben yang baginya adalah simbolisasi pemimpin yang tak hanya memikirkan perutnya sendiri dan mampu menahan diri.
“Pemimpin harus mengencangkan ikat pinggang, dan jangan rakus, jangan sombong dan usil,” beber Sugiri.
Baca juga: Bedol Pusaka di Pringgitan, Awali Rangkaian Puncak Grebeg Suro Ponorogo
Kirab diarak menuju ke kutho tengah (kota tengah), pusat pemerintahaan saat ini. Yakni di Pringgitan Rumah Dinas Bupati, kompleks Pendopo Kabupaten Ponorogo, di Kelurahan Mangkujayan, Kecamatan Ponorogo, Kabupaten Ponorogo.
Tak hanya tiga pusaka keramat yang diarak dan dilakukan jamasan atau mencuci pusaka, ada 2 pusaka baru yang ikut diarak tahun ini.
Diharapkan Sugiri nilai-nilai yang terkandung dalam prosesi tersebut dapat terus dilestarikan dan menjadi inspirasi bagi generasi muda dan khalayak, untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kepemimpinan yang baik dan bertanggung jawab.
“Ada 2 pusaka lagi yang ikut dikirab, hadiah dari Jepara yakni Bromo Geni, dan satu lagi keris pemberian Mpu bergambar Grebeg Suro, yang saya beri nama Ki Pamong Angon Geni,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....