Mahasiswa UNESA Magetan Gelar Refleksi September Hitam

  • 01 Okt 2026 03:57 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Sejumlah mahasiswa Kampus 5 Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Magetan menggelar kegiatan refleksi memperingati September Hitam, Selasa (29/9/2026). Kegiatan berlangsung di lingkungan kampus melalui mimbar bebas, pertunjukan teatrikal, pembacaan puisi, dan diskusi.

Kegiatan yang digagas After Class Society tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membicarakan kembali sejumlah persoalan, seperti hak asasi manusia (HAM), penegakan hukum, demokrasi, serta pentingnya menjaga ingatan terhadap berbagai peristiwa kemanusiaan.

Salah satu inisiator dari aliansi mahasiswa Bimbingan dan Konseling (BK), Almachzumi, mengajak peserta mengingat sejumlah kasus yang hingga kini masih menjadi perhatian. Di antaranya kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib, Tragedi Semanggi I dan II, serta kasus Affan Kurniawan.

Menurutnya, peringatan tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang para korban. Penegakan hukum juga dinilai penting agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

Pandangan mengenai pentingnya penyelesaian kasus HAM juga disampaikan salah seorang peserta, Ino. Ia menyebut pemenuhan keadilan bagi korban dan keluarga korban masih menjadi salah satu perhatian mahasiswa.

“Tuntutan mahasiswa sangat mendasar, yaitu pemenuhan keadilan hukum bagi korban dan keluarga korban HAM yang telah puluhan tahun menanti kepastian janji negara,” ujarnya.

Pesan reflektif dalam kegiatan tersebut juga disampaikan melalui teatrikal dan monolog yang dibawakan Ridwan. Ia menggunakan sejumlah simbol dalam pertunjukannya untuk menggambarkan kondisi demokrasi, relasi kuasa, dan ketimpangan politik.

Sementara itu, peserta lainnya, Exsyel, menyampaikan pandangan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah dan pelayanan aparatur negara. Kritik tersebut menjadi bagian dari pembahasan mahasiswa mengenai persoalan yang dinilai masih perlu mendapat perhatian publik.

Selain menyampaikan kritik terhadap pemerintah, mahasiswa juga melakukan evaluasi terhadap gerakan mereka sendiri.

Achmad menilai mahasiswa perlu mempertahankan kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan media sosial dan derasnya arus informasi. Menurutnya, sikap kritis perlu dibangun mulai dari lingkungan terdekat.

“Mahasiswa tidak boleh menjadi seperti kawanan rusa yang pasrah ketika ruang hidupnya dirampas,” katanya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi karya Chairil Anwar oleh Tevan. Setelah rangkaian mimbar bebas dan pertunjukan, peserta mengikuti diskusi untuk membahas sejumlah persoalan yang dinilai membutuhkan tindak lanjut.

Dalam diskusi tersebut, mahasiswa membicarakan rencana penyusunan draf advokasi yang akan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Magetan. Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain keterbukaan ruang publik serta akses dan jaminan pendidikan di tingkat lokal.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan mengheningkan cipta yang dipimpin Okan selaku salah satu inisiator. Peserta juga memanjatkan doa untuk para korban berbagai tragedi kemanusiaan yang terjadi pada September.

Setelah itu, peserta sepakat melanjutkan konsolidasi dan diskusi pada kesempatan berikutnya untuk memperdalam hasil refleksi serta membahas langkah advokasi yang dapat dilakukan.

Pemimpin inisiator kegiatan, Allesheva, mengatakan menjaga ingatan terhadap berbagai peristiwa masa lalu menjadi salah satu cara agar persoalan kemanusiaan tidak dilupakan.

“Jika penguasa ingin mengubur sejarah dengan kebohongan, maka ingatan kita adalah bentuk perlawanan. Karena tidak ada keadilan yang akan tegak jika kita memilih untuk diam dan menutup mata,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa Kampus 5 UNESA Magetan berupaya menjadikan September Hitam tidak hanya sebagai momentum mengenang berbagai peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai ruang berdiskusi dan menyusun gagasan terkait persoalan publik di tingkat lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....