Kenali Perbedaan Hama dan Musuh Alami untuk Pertanian Berkelanjutan
- 30 Sep 2026 18:46 WIB
- Madiun
Poin Utama
- Hama sejatinya hanyalah hewan atau organisme yang merugikan tanaman, sementara tidak semua hewan di lahan bersifat demikian dan bisa menjadi kawan bagi petani.
- Praktik pertanian yang ramah lingkungan menuntut pemahaman mendalam untuk dapat membedakan organisme yang merugikan dan organisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman.
RRI.CO.ID, Madiun - Banyak petani saat ini masih terjebak dalam pola pikir instan dengan langsung menggunakan pestisida kimia saat melihat serangga di lahan mereka. Padahal, praktik pertanian yang ramah lingkungan menuntut pemahaman mendalam untuk memisahkan mana organisme yang benar-benar merugikan tanaman dan mana yang justru menjadi kawan bagi petani.
Prof. Dr. Ir. Wuye Andayanie, M.P., pakar pertanian dari Universitas Merdeka Madiun, saat berbincang dalam dialog Green Radio Programa 1 RRI Madiun, menjelaskan bahwa hama sejatinya hanyalah hewan yang merugikan tanaman, sementara tidak semua hewan di lahan bersifat demikian.
"Jadi kalau hama itu adalah binatang atau hewan yang merugikan bagi tanaman karena tidak semua binatang atau hewan itu merugikan bagi tanaman," terang Prof. Wuye, belum lama ini.
Selain serangga, mikroorganisme juga sering disalahpahami sebagai ancaman. Prof. Wuye menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dengan membiarkan musuh alami tetap hidup.
"Binatang atau mikroorganisme yang tidak merugikan bagi tanaman itulah yang baik binatang ataupun mikroorganisme yang tidak merugikan bagi tanaman itu yang harus kita selamatkan," tuturnya.
Musuh alami baik berupa predator maupun parasit memainkan peran vital dalam menekan populasi hama secara alami. Contoh nyata yang diangkat dalam diskusi adalah Trikoderma, sebuah mikroorganisme jamur yang sangat bermanfaat bagi kesehatan akar tanaman.
Penggunaan pestisida yang membabi buta justru akan memusnahkan agen hayati penguntung ini dan membuat tanah menjadi tandus. Lebih lanjut Prof. Wuye mengingatkan bahwa penggunaan bahan kimia seharusnya menjadi pilihan terakhir, bukan tindakan preventif utama.
"Kalau ada yang tetap menggunakan atau pengin menggunakan pestisida kimia itu bukan dilarang tetapi itu sebagai alternatif yang terakhir saja," jelasnya.
Prof. Wuye pun mengajak masyarakat untuk beralih ke metode pengelolaan hama terpadu yang lebih bijaksana. Dengan memadukan teknik budidaya seperti pergiliran tanaman dan menjaga populasi musuh alami, petani tidak hanya dapat meningkatkan kualitas hasil panen, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....