Karakter Seseorang Tak Bisa Diukur lewat Pilihan Ganda

  • 30 Sep 2026 07:04 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Seseorang bisa mendapatkan nilai sempurna dalam ujian, tetapi belum tentu mampu menunjukkan kejujuran, tanggung jawab, atau kepedulian dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah pendidikan menghadapi tantangan yang lebih besar: prestasi dapat dihitung dengan angka, tetapi karakter tidak bisa sekadar diukur melalui pilihan ganda.

“Angka bisa dihitung dalam sekali ujian, sedangkan karakter tidak bisa hanya diuji melalui pilihan ganda,” kata Wenny Wijayanti, M.Pd., Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UKWMS Kampus Kota Madiun, saat menjadi narasumber dalam program Ngobras di Programa 1 RRI Madiun, Senin 28 September 2026.

Menurut Wenny, prestasi akademik relatif lebih mudah diukur karena hasilnya dapat dituangkan dalam bentuk angka. Nilai ujian, indeks prestasi, sertifikat, hingga medali menjadi indikator yang dapat dilihat dan dibandingkan.

Namun, karakter membutuhkan proses yang berbeda. Kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kesantunan, serta kepedulian terhadap sesama tidak terbentuk dalam satu kali ujian. Nilai-nilai tersebut tumbuh melalui proses panjang, keteladanan, dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten.

Wenny menegaskan, karakter seorang anak tidak tumbuh di ruang kosong. Lingkungan tempat anak berada turut membentuk kebiasaan dan nilai yang melekat dalam dirinya. Karena itu, keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam proses pembentukan karakter.

“Karakter anak yang tumbuh dari teladan keluarga, sekolah dan masyarakat itu berarti orang dewasa ikut bertanggung jawab atas apa yang tumbuh. Sebagai orang tua harus saling bekerja sama dalam menumbuhkan karakter yang baik,” pungkas Wenny.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan semestinya tidak hanya dilihat dari banyaknya nilai tinggi, sertifikat, atau medali yang berhasil diraih peserta didik. Di balik capaian akademik, pendidikan juga memiliki tanggung jawab untuk membentuk manusia yang memiliki nilai dan mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Sebab, anak yang berprestasi secara akademik belum cukup disebut berhasil apabila pengetahuan yang dimilikinya tidak diiringi dengan kejujuran, tanggung jawab, kemandirian, kesantunan, dan kepedulian. Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang seberapa tinggi angka yang mampu dicapai seorang anak, tetapi juga tentang seperti apa manusia yang tumbuh di balik angka tersebut

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....