Sumur Mulai Mengering, BPBD Kota Madiun Dropping Air di Dua Kelurahan
- 29 Sep 2026 10:27 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Kota Madiun – Puncak musim kemarau mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di Kota Madiun. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun kini melakukan dropping air bersih ke dua kelurahan di Kecamatan Kartoharjo, yakni Kelun dan Tawangrejo.
Kondisi tersebut terjadi lantaran sumur yang selama ini menjadi sumber air warga tidak lagi berfungsi optimal. Di Kelurahan Kelun, sedikitnya 14 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan. Sedangkan di Kelurahan Tawangrejo, terdapat sekitar tujuh KK yang mengalami kondisi serupa.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Madiun Deddy Purnomo Santoso mengatakan, permintaan dropping air pertama datang dari warga Kelurahan Kelun pada 10 September lalu. Bantuan ditujukan untuk warga RT 19 dan RT 21.
‘’Awalnya ada permintaan dari masyarakat untuk dropping air bersih di Kelurahan Kelun, di RT 19 dan RT 21,’’ ujarnya.
BPBD kemudian menempatkan tiga tandon di dua titik untuk menampung air bersih. Pengisian dilakukan secara berkala. Sepekan berselang, giliran Kelurahan Tawangrejo mengajukan permintaan bantuan air bersih.
‘’Sekitar 19 September kemarin, Kelurahan Tawangrejo meminta dikirimkan air untuk kekeringan di wilayahnya,’’ ucap Deddy.
Total terdapat lima tandon yang disiapkan. Rinciannya, tiga tandon di Kelun dan dua tandon di Tawangrejo. Pengisian dilakukan secara bergantian oleh BPBD bersama PDAM setiap dua hari sekali.
Menurut Deddy, kondisi kekeringan tersebut dipengaruhi menurunnya ketersediaan air tanah. Selain kebutuhan rumah tangga, air tanah juga banyak dimanfaatkan untuk pengairan lahan pertanian.
‘’Air tanah yang digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari kalah dengan aktivitas penyedotan untuk kebutuhan pertanian,’’ ujarnya.
Sumur warga umumnya memiliki kedalaman sekitar 10 hingga 25 meter. Sementara, petani menggunakan sumber air tanah dengan kedalaman lebih dari itu. Akibatnya, debit air yang tersedia untuk rumah tangga ikut terpengaruh.
Kondisi tersebut, lanjut Deddy, bukan kali pertama terjadi. Kekeringan serupa rutin muncul setiap musim kemarau dan warga yang terdampak cenderung sama.
Pemerintah sebelumnya juga telah memberikan akses pemasangan jaringan PDAM secara gratis bagi warga terdampak. Namun, sebagian warga tidak melanjutkan penggunaan layanan tersebut karena terkendala pembayaran bulanan. ‘’Pernah dilakukan bantuan untuk penggunaan air PDAM, termasuk akses pemasangan gratis. Tetapi ketika masuk pembayaran bulanan, ada yang tidak terbayar sehingga akhirnya dicabut lagi,’’ katanya.
Sementara itu, Lurah Kelun Pardi menyebut dropping air sangat membantu warga RW 05, lingkungan Kayen. Sebab, sebagian warga masih mengandalkan air tanah meski jaringan PDAM telah tersedia.
‘’PDAM sudah ada, tetapi beberapa warga tidak memanfaatkannya dan masih menggunakan air bawah tanah. Saat musim kemarau, akhirnya kekurangan air,’’ ujarnya.
Menurut Pardi, terdapat sekitar 15 KK yang memanfaatkan suplai air bersih tersebut. Tiga tandon ditempatkan di dua lokasi. Salah satu titik memiliki jumlah pengguna cukup banyak karena selain untuk kebutuhan rumah tangga, air juga digunakan untuk mendukung aktivitas produksi tempe.
‘’Di tandon sebelah selatan banyak penggunanya. Di situ juga ada kegiatan produksi tempe sehingga air memang sangat dibutuhkan. Dengan suplai ini, aktivitas warga dan pemulihan ekonomi bisa berjalan lancar,’’ tuturnya.
Pardi menambahkan, berkurangnya debit air tanah merupakan persoalan yang lazim terjadi saat memasuki September hingga Oktober. Debit sumur warga bisa naik turun, bahkan tidak jarang mampet.
‘’Kalau September dan Oktober seperti ini memang hal yang lumrah terjadi. Kekeringan sebenarnya menyeluruh, tetapi di sini kebutuhannya memang sangat mendesak,’’ pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....