BMKG Nganjuk, Sesar Kendeng Masyarakat Tidak Perlu Cemas, Kurangi Risiko.

  • 17 Sep 2026 20:54 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Keberadaan Sesar Kendeng belakangan ini ramai dibahas di berbagai media dan media sosial, terutama setelah pembaruan *Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024* kembali menjadi perhatian. Hal ini sedikit banyak membuat masyarakat khawatir terhadap kemungkinan terjadinya gempa besar maupun risikonya. Menanggapi kondisi tersebut Badan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nganjuk memberikan penjelasan rinci untuk memberikan pemahaman dan edukasi kepada masyarakat. Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Nganjuk, Setiyaris mengatakan, Sesar Kendeng merupakan sistem sesar aktif yang menjadi bagian dari Java Back-arc Thrust dan membentang sekitar 300 kilometer dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Sistem ini terbagi atas 6 segmen, yaitu Demak, Purwodadi, Cepu, Blumbang, Surabaya, dan Waru. Dalam kajian sumber gempa, beberapa segmen memiliki perkiraan kekuatan maksimum sekitar 6 samapi 7 skal richter. Menurut Setiyaris angka tersebut bukan ramalan akan terjadinya gempa tetapi gambaran potensi sumber gempa berdasarkan karateristik sesarnya. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan, tetapi yang terpenting meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi resiko. Bagi masyarakat wilayah Madiun dan sekitarnya yang perlu diwaspadai adalah segmen Pandan.

”Bagi masyarakat Nganjuk, Madiun, dan Bojonegoro, yang perlu diperhatikan adalah Segmen Pandan yang berada pada zona Segmen Cepu dan memiliki panjang sekitar 18 kilometer. Jalurnya berada di sekitar perbatasan Rejoso, Nganjuk; Saradan, Madiun; dan Sekar, Bojonegoro,” jelas Setiyaris, Kamis, 17 September 2026.

Kawasan tersebut juga pernah mencatat ratusan gempa swarm pada 2016, yaitu rangkaian gempa kecil yang terjadi berulang, dengan magnitudo sekitar M1–M3 di Klangon–Saradan, Madiun. Setiyaris mengingatkan masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada karena keberadaan sesar aktif tidak berarti gempa besar akan segera terjadi. Yang paling penting adalah mengurangi risiko dengan memastikan bangunan cukup kuat, kenali tempat berlindung dan jalur evakuasi, serta pahami tindakan yang harus dilakukan saat gempa. Hingga saat ini, gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat kapan, di mana, dan seberapa besar kekuatannya. Karena itu masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang menyebut gempa akan terjadi pada tanggal atau waktu tertentu, disarankan untuk mengikuti informasi resmi BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah. (Shabrina).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....