Kebakaran TPA Milangasri Diduga Dipicu Percikan Pembakaran Daduk Tebu

  • 15 Sep 2026 01:06 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Milangasri, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, diduga dipicu percikan api dari pembakaran sisa tanaman tebu atau daduk di sekitar kawasan tersebut. Percikan api diduga terbawa angin hingga masuk ke area timbunan sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magetan Saif Muchlisun mengatakan dugaan tersebut muncul berdasarkan kondisi saat kebakaran terjadi. Api diketahui mulai membakar bagian tebing timbunan sampah pada salah satu sel TPA yang sudah tidak digunakan.

“Diduga dari pembakaran daduk di sebelah utara TPA. Karena saat itu anginnya cukup kencang dan arahnya ke selatan, sehingga percikan api kemungkinan terbawa sampai ke lokasi TPA,” ujar Saif.

Menurut Saif, kebakaran tidak terjadi di seluruh kawasan TPA Milangasri. Api hanya membakar sebagian tebing timbunan sampah dengan luasan sementara diperkirakan sekitar satu hektare.

Kebakaran diketahui terjadi pada Sabtu ketika kondisi angin cukup kencang. Meskipun kobaran api kini telah mereda, petugas masih melakukan pembasahan hingga Minggu malam untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

“Sekarang sudah mulai padam, tetapi tetap kami lakukan pembasahan. Ini untuk mengantisipasi bara yang masih ada di dalam timbunan dan kemungkinan munculnya titik api lagi,” katanya.

Proses pemadaman menjadi tidak mudah karena lokasi kebakaran berada di tebing timbunan sampah dengan ketinggian yang diperkirakan mencapai 30 meter. Sebagian sumber api juga berada di dalam timbunan sehingga tidak seluruhnya dapat dijangkau dari permukaan.

Saif menjelaskan, bagian atas timbunan sebelumnya telah ditutup menggunakan lapisan tanah. Kondisi tersebut membantu mencegah api merambat hingga ke permukaan atas tumpukan sampah.

“Yang terbakar ini bagian tebingnya. Bagian atas timbunan sudah ditutup tanah, sehingga api tidak sampai menjalar ke bagian atas,” ujarnya.

Meski api di permukaan telah padam, DLH bersama petugas pemadam kebakaran tetap melakukan pemantauan. Bara yang berada di dalam timbunan dikhawatirkan kembali menyala apabila mendapat pasokan udara, terutama ketika angin kembali bertiup kencang.

Menurut Saif, karakteristik timbunan sampah membuat panas dapat bertahan dalam waktu cukup lama. Karena itu, hilangnya api di permukaan belum menjadi tanda bahwa seluruh sumber kebakaran telah benar-benar padam.

“Kalau di dalam masih ada bara, kemudian terkena hembusan angin, bisa muncul lagi. Sampah itu menyimpan panas, jadi meskipun di atas kelihatan sudah padam, di dalamnya masih perlu kami pantau,” jelasnya.

Selain potensi bara kembali menyala, kondisi timbunan sampah juga memiliki risiko lain berupa gas metana. Gas tersebut dapat terbentuk dari proses pembusukan material organik di dalam timbunan dan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam penanganan kebakaran TPA.

Saif memastikan asap dari kebakaran tersebut sejauh ini belum dilaporkan mengganggu aktivitas warga. Lokasi TPA Milangasri berjarak sekitar 1,5 kilometer dari permukiman terdekat.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, DLH meningkatkan pengawasan terhadap titik-titik yang dinilai rawan kebakaran, terutama selama musim kering. Kondisi cuaca dan aktivitas pembakaran di sekitar kawasan menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko munculnya api.

Saif juga membantah anggapan bahwa kebakaran sengaja dilakukan karena TPA Milangasri telah mengalami kelebihan kapasitas atau overload. Menurutnya, dugaan penyebab kebakaran lebih mengarah pada adanya percikan dari pembakaran daduk di sekitar lokasi.

“Kalau dikaitkan dengan TPA yang sudah overload, bukan berarti kemudian kebakaran ini disengaja. Dugaan sementara justru dari percikan pembakaran daduk yang terbawa angin,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....