Teguran Allah yang Sering Kita Abaikan : Pelajaran dari QS. Al-Isra’: 59

  • 15 Sep 2026 09:26 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Berbagai peristiwa yang terjadi di alam semesta hendaknya tidak hanya dipandang sebagai sebuah pemberitaan atau kejadian semata. Bagi orang beriman, setiap peristiwa merupakan tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala sekaligus teguran agar manusia mengambil pelajaran, memperkuat iman, dan meningkatkan ketakwaan.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Shofar, S.Pd.I., SM., saat menjadi narasumber dalam program Mutiara Pagi di PRO 1 RRI Madiun, Sabtu (12/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak umat Islam untuk menyadari bahwa seluruh peristiwa yang terjadi di alam semesta berlangsung atas kehendak dan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ia menjelaskan, tidak ada sesuatu pun yang bergerak, berubah, berganti, maupun berakhir kecuali atas kehendak Allah. Bahkan, hal yang terlihat sangat sederhana dalam kehidupan manusia pun tidak lepas dari kehendak-Nya.

“La tataharraku darratun illa bi idznillah. Tidak ada sesuatu yang bergerak, yang berubah, yang berganti, yang berakhir, melainkan atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala,” kata Ustadz Shofar.

Menurutnya, kesadaran tersebut semestinya membuat manusia melihat berbagai fenomena alam dengan sudut pandang keimanan. Gunung yang meletus, bumi yang berguncang, air yang meluap hingga ke daratan, maupun api yang melalap bangunan merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang patut direnungkan.

“Jangankan gunung yang meletus menghamburkan isi perutnya. Jangankan bumi yang menggoyangkan dirinya. Jangankan air yang menumpahkan airnya ke daratan. Jangankan api yang melalap banyak bangunan. Satu helai rambut kita yang lepas dari kepala kita itu hakikatnya adalah atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala,” ujarnya.

Ia menambahkan, orang yang beriman hendaknya tidak berhenti pada rasa prihatin atau sekadar mengikuti pemberitaan ketika menyaksikan sebuah musibah. Lebih jauh, peristiwa tersebut perlu dijadikan iktibar atau pelajaran untuk melakukan introspeksi diri.

“Maka sejatinya orang yang beriman, apa pun yang terjadi kepada dirinya, yang terjadi kepada alam semesta ini bukan hanya sebagai pemberitaan, tapi sebagai peringatan untuk dijadikan iktibar kemudian meningkatkan iman dan takwa,” tambahnya.

Musibah Menjadi Pengingat untuk Bertaubat

Ustadz Shofar juga menyinggung berbagai musibah yang masih terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah kebakaran hutan yang mengakibatkan kerugian besar, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi ekosistem dan satwa yang hidup di dalamnya. Kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan, misalnya, berdampak terhadap ribuan hektare kawasan hutan. Satwa kehilangan habitat dan tidak sedikit yang turut menjadi korban akibat kobaran api. Dampaknya pun tidak hanya dirasakan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran.

“Bukan hanya manusia yang merasakan akibatnya. Bukan hanya orang yang berada di sana merasakannya, tapi di banyak tempat. Bahkan di negeri jiran kita pun merasakan dampak daripada akibat kebakaran yang terjadi ini,” tuturnya.

Ia mengajak masyarakat untuk mendoakan agar upaya penanganan berbagai musibah tersebut diberikan kemudahan serta mengajak manusia melakukan evaluasi terhadap perilaku yang dapat menimbulkan kerusakan.

“Oleh karena itu, ketika musibah itu terjadi karena ulah tangan manusia, maka sebagian mereka yang merasakan akibatnya, banyak juga manusia yang merasakan mudaratnya, hendaknya menjadi peringatan agar manusia itu kembali ke jalan yang Allah ridai untuk bertaubat dari segala macam kerusakan yang didatangkan,” kata Ustadz Shofar.

Lebih lanjut, Ustadz Shofar mengajak masyarakat mengambil pelajaran dari QS. Al-Isra’ ayat 59. Dalam ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa tanda-tanda kebesaran-Nya yang diberikan kepada manusia juga menjadi peringatan.

“Lebih dari itu kita ingin belajar mengambil iktibar daripada Surah Al-Isra ayat 59. Pada akhir ayat tersebut Allah ingatkan, wa ma nursilu bil-ayati illa takhwifa. Dan tidaklah Kami datangkan tanda-tanda kebesaran Allah, ayat-ayat Allah, melainkan untuk mendatangkan rasa takut pada hamba tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, rasa takut yang dimaksud bukan sekadar ketakutan terhadap suatu peristiwa, melainkan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan senantiasa membutuhkan pertolongan Allah.

Ayat-ayat Allah yang hadir melalui berbagai peristiwa semestinya membuat manusia semakin sadar bahwa tidak ada tempat untuk benar-benar bergantung selain kepada-Nya.

“Merasakan, mendatangkan rasa khawatir pada setiap makhluk. Ayat-ayat Allah yang terjadi, tanda-tanda kebesaran Allah yang terjadi seharusnya menjadikan kita itu takut bahwa tidak ada tempat mengadu, tidak ada tempat berlari, tidak ada tempat berharap melainkan Dia yang Maha dalam segala-galanya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala,” pungkas Ustadz Shofar.

Melalui berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar, umat Islam diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi mengambil pelajaran. Musibah menjadi momentum untuk bermuhasabah, meninggalkan berbagai bentuk kerusakan, bertaubat, dan kembali meningkatkan iman serta ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....