Dampak Doomscrolling bagi Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya

  • 15 Sep 2026 09:22 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Kebiasaan terus-menerus membaca atau melihat informasi negatif di media sosial dan media digital atau yang dikenal dengan istilah doomscrolling dapat berdampak pada kondisi psikologis seseorang. Paparan berita buruk secara berlebihan bahkan dapat membuat seseorang merasa harus memikirkan berbagai persoalan yang sebenarnya berada di luar kendalinya.

Karena itu, penting untuk membedakan antara peduli terhadap suatu masalah dengan terus-menerus mengonsumsi informasi mengenai masalah tersebut. Keduanya tidak selalu sama.

Terlalu lama terpapar informasi negatif justru dapat memengaruhi kesehatan mental.

“Dampak doomscrolling bagi psikologi kita seperti lebih mudah cemas, perasaan mudah tegang, selanjutnya sulit berkonsentrasi, mengalami sulit tidur, dalam keseharian merasa lebih pesimis dan mengalami kelelahan emosional,” kata Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, Founder Psikologianak.id sekaligus Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), saat menjadi narasumber dalam acara Teman Cerita di PRO 1 RRI Madiun, Selasa (8/9/2026).

Menurut Robik, terdapat sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan agar seseorang tidak terjebak dalam kebiasaan doomscrolling, meskipun tetap ingin mengikuti perkembangan berita. Salah satunya dengan membatasi waktu membaca berita.

Menurutnya, tidak semua perkembangan harus diketahui secara real-time. Masyarakat dapat menentukan waktu tertentu untuk membaca berita sehingga konsumsi informasi tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Jangan lupa pilih sumber informasi yang kredibel seperti RRI ini yang selalu menyampaikan informasi valid dan akurat. Gunakan beberapa sumber yang kredibel daripada terus berpindah dari satu unggahan ke unggahan lainnya. Batasi juga durasi membaca atau melihat informasi, misalnya membaca selama 15–20 menit, kemudian kembali pada aktivitas lain juga,” jelas Robik.

Selain membatasi durasi, seseorang juga perlu memperhatikan kondisi emosinya ketika membaca informasi. Salah satu caranya dengan bertanya kepada diri sendiri, apakah informasi yang sedang dibaca benar-benar membantu memahami keadaan atau justru membuat semakin cemas.

Robik juga menyarankan masyarakat menerapkan prinsip STOP ketika membuka dan membaca informasi yang beredar di media sosial maupun media lainnya. Prinsip tersebut terdiri dari S (Sudah cukup belum informasinya), T (Tujuan saya membaca berita apa?), O (Observe emosi) dan P (Putuskan untuk berhenti).

Dengan menerapkan prinsip tersebut, seseorang diharapkan mampu mengendalikan konsumsi informasi dan tidak terjebak dalam arus berita negatif secara terus-menerus. Pada prinsipnya, masyarakat tetap membutuhkan informasi untuk memahami kondisi di sekitarnya. Namun, kebutuhan untuk mendapatkan informasi tidak berarti harus tenggelam dalam setiap informasi yang beredar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....