Kemarau Susutkan 27 Sumber Air di Magetan, Sejumlah Embung dan Kanal Mengering

  • 09 Sep 2026 01:18 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Musim kemarau mulai menekan ketersediaan air di Kabupaten Magetan. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan mencatat sedikitnya 27 sumber air, mulai telaga, waduk, bendungan hingga embung, mengalami penyusutan debit dan volume air.

Kondisinya tidak sama di setiap lokasi. Sejumlah sumber air utama masih memiliki cadangan yang cukup, sementara beberapa embung kecil dan saluran irigasi dilaporkan telah mengalami kekeringan.

Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPR Magetan, Yuli Karyawan Iswahyudi, mengatakan penyusutan volume air merupakan dampak dari berlangsungnya musim kemarau. Meski demikian, pihaknya masih memantau kondisi sejumlah sumber air yang menjadi penopang kebutuhan masyarakat dan pertanian.

“Secara keseluruhan memang ada sekitar 27 sumber air yang mengalami penyusutan. Kondisinya bervariasi, ada yang masih memiliki air cukup dan ada juga beberapa yang sudah mengering,” kata Yuli.

Dua sumber air besar yang mengalami penyusutan antara lain Telaga Pasir atau Telaga Sarangan serta Waduk Gonggang di Kecamatan Poncol. Meski volume air berkurang cukup signifikan, DPUPR menilai kondisi keduanya masih relatif aman.

Menurut Yuli, cadangan air di Telaga Sarangan dan Waduk Gonggang masih dapat menopang kebutuhan masyarakat serta sektor pertanian dalam beberapa waktu ke depan.

“Untuk sumber-sumber air yang besar seperti Telaga Sarangan dan Waduk Gonggang memang terjadi penyusutan, tetapi sampai saat ini kondisinya masih relatif aman. Airnya masih tersedia untuk kebutuhan yang ada,” ujarnya.

Kondisi berbeda terjadi pada sejumlah embung berukuran kecil. Beberapa di antaranya dilaporkan sudah mengering, termasuk saluran irigasi yang debit airnya semakin berkurang akibat kemarau.

Embung yang masih memiliki sisa air pun sebagian besar tidak lagi dapat diandalkan untuk mengairi areal persawahan. Air yang tersisa lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan terbatas, termasuk kegiatan pemancingan.

“Kalau embung-embung kecil, ada yang sudah kering. Yang masih ada airnya pun sebagian besar sudah tidak digunakan untuk mengairi sawah,” jelas Yuli.

Menghadapi kondisi tersebut, DPUPR Magetan melakukan langkah mitigasi dengan pemeliharaan rutin terhadap infrastruktur sumber daya air. Selain itu, rehabilitasi ringan dan perbaikan sejumlah fasilitas, termasuk sumur, terus dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan.

DPUPR juga berkoordinasi dengan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA), kelompok tani, dan Dinas Pertanian Kabupaten Magetan untuk mengatur pola tanam pada Musim Tanam III.

Yuli mengingatkan petani agar tidak memaksakan menanam padi di wilayah yang tidak memiliki jaminan pasokan air hingga masa panen. Penanaman padi, menurutnya, sebaiknya hanya dilakukan pada lahan yang memiliki sumber air memadai.

“Kami mengimbau petani untuk menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air. Jangan sampai menanam padi tetapi airnya tidak cukup sampai masa panen,” katanya.

Menurut dia, sawah yang masih memiliki akses terhadap sumur air tanah dalam atau berada di sekitar sumber air yang mencukupi masih memungkinkan untuk ditanami padi.

Sementara lahan pertanian yang diperkirakan mengalami kekurangan pasokan air diarahkan untuk ditanami palawija. Tanaman tersebut dinilai lebih sesuai untuk menghadapi kondisi kemarau karena kebutuhan airnya relatif lebih rendah dibandingkan padi.

“Kalau ketersediaan air tidak mencukupi, lebih baik menyesuaikan dengan tanaman palawija. Ini untuk mengurangi risiko gagal panen,” pungkas Yuli.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....