Mengenal Emotional Exhaustion dan Tanda-tandanya
- 02 Sep 2026 06:33 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Pernah merasa sudah tidur cukup, banyak rebahan, bahkan mengambil waktu untuk berlibur dan melakukan berbagai aktivitas yang menyenangkan, tetapi tetap merasa lelah? Kondisi tersebut bisa jadi bukan sekadar kelelahan fisik. Bisa saja yang mengalami kelelahan adalah pikiran dan emosi. Kondisi tersebut dikenal sebagai emotional exhaustion atau kelelahan emosional. Kondisi ini terjadi ketika seseorang merasa terkuras secara emosional akibat tekanan yang berlangsung terus-menerus.
Psikolog sekaligus Founder Psikologianak.id dan Dosen Psikologi UKWMS, Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami emotional exhaustion dapat tetap menjalankan aktivitas sehari-hari seperti bekerja dan mengurus keluarga, namun sebenarnya kondisi psikologisnya sedang sangat lelah.
“Ketika mereka sudah menjalani rutinitas, sudah istirahat cukup, sudah rebahan, sudah refreshing, healing, tapi ketika masuk kerja kok masih merasa capek ya. Yang terjadi mungkin bisa jadi yang lelah bukan tubuhnya. Yang lelah pikirannya, emosinya, maka tidur saja tidak cukup. Maka kita perlu mengenal apa yang disebut emotional exhaustion,” kata Robik saat menjadi narasumber acara Teman Cerita di PRO 1 RRI Madiun, Selasa 1 Agustus 2026.
Menurut Robik, emotional exhaustion merupakan kondisi kelelahan emosional yang muncul ketika seseorang terlalu lama menghadapi tuntutan, tekanan, konflik, maupun beban psikologis tanpa mendapatkan pemulihan yang memadai.
“Emotional exhaustion adalah kondisi kelelahan emosional yang muncul ketika seseorang terlalu lama menghadapi tuntutan, tekanan, konflik, atau beban psikologis tanpa pemulihan yang cukup. Jadi, ini bukan sekadar capek biasa,” jelasnya.
Ia mengatakan, kelelahan emosional berbeda dengan kelelahan fisik biasa. Pada kelelahan biasa, tubuh umumnya dapat kembali bugar setelah mendapatkan tidur atau istirahat yang cukup. Sementara pada emotional exhaustion, rasa lelah dapat tetap bertahan meskipun seseorang sudah beristirahat.
“Kalau lelah biasa, setelah tidur atau istirahat sebentar biasanya tubuh terasa lebih segar. Tetapi pada emotional exhaustion, seseorang bisa merasa kosong, jenuh, mudah tersinggung, sulit menikmati aktivitas, dan merasa energinya habis,” lanjut Robik.
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah munculnya rasa lelah yang menetap dan perasaan seperti “penuh” secara mental. Seseorang juga dapat mengalami kesulitan untuk merasa lega meskipun sudah berusaha mengambil waktu untuk beristirahat.
“Biasanya orang-orang yang mengalami emotional exhaustion, mereka akan sulit merasa lega sehingga mereka mudah marah atau sensitif, kehilangan semangat, dan merasa istirahat tidak benar-benar memulihkan tenaganya,” ungkapnya.
Robik menambahkan, istirahat pada dasarnya bertujuan membantu seseorang memulihkan energi sehingga dapat kembali menjalani aktivitas dengan kondisi yang lebih segar. Namun, ketika sumber kelelahan berasal dari tekanan emosional dan psikologis yang berlangsung terus-menerus, istirahat fisik saja belum tentu cukup.
Karena itu, mengenali tanda-tanda emotional exhaustion menjadi penting agar seseorang tidak terus-menerus memaksakan diri ketika kondisi mental dan emosinya sudah membutuhkan perhatian.
Jika rasa lelah emosional berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas maupun kehidupan sehari-hari, seseorang dapat mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional agar dapat memahami kondisi yang dialami dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....