Miftachul Akhyar dan Gus Kikin Pimpin PBNU, PCNU Magetan Harap NU Kian Solid
- 31 Agt 2026 16:13 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Magetan - KH Miftachul Akhyar terpilih sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sedangkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dipercaya sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031. Kepemimpinan baru tersebut ditetapkan dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026).
Terpilihnya dua tokoh tersebut menandai dimulainya masa kepemimpinan baru di organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. KH Miftachul Akhyar akan menjalankan peran sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam bidang keulamaan, sementara Gus Kikin memimpin jalannya roda organisasi PBNU.
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Magetan, KH Susanto Khairul Fatwa, menyambut hasil muktamar tersebut. Ia berharap kepemimpinan baru mampu menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan konsolidasi seluruh elemen Nahdlatul Ulama.
“Bagi kami di daerah, yang utama adalah bagaimana hasil muktamar ini menjadi momentum untuk kembali merapatkan barisan. Setelah proses pemilihan selesai, tidak ada lagi kelompok-kelompok yang berbeda. Semuanya harus kembali menjadi satu dalam semangat khidmah NU,” ujar KH Susanto di sela Muktamar ke-35 NU di Jombang, kepada RRI.
Menurut dia, terpilihnya KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin harus dipandang sebagai hasil proses organisasi yang perlu dihormati seluruh warga Nahdliyin. Setelah dinamika dan perbedaan pandangan yang muncul selama muktamar, seluruh unsur organisasi diharapkan kembali bersatu.
KH Susanto menilai duet kepemimpinan Rais Aam dan Ketua Umum memiliki peran yang saling melengkapi. Rais Aam bertanggung jawab menjaga marwah serta arah keulamaan NU, sedangkan Ketua Umum menggerakkan organisasi dan memastikan program berjalan hingga ke seluruh tingkatan.
“Rais Aam memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga marwah dan arah keulamaan. Ketua Umum memiliki tugas besar dalam menggerakkan organisasi. Keduanya harus berjalan saling menguatkan, bukan berjalan sendiri-sendiri,” katanya.
Ia berharap kepemimpinan baru PBNU tidak hanya memperkuat konsolidasi di tingkat pusat, tetapi juga menghadirkan kebijakan dan program yang dapat dirasakan hingga tingkat cabang, ranting, dan warga Nahdliyin.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi NU ke depan membutuhkan organisasi yang solid dari tingkat pusat hingga akar rumput. Karena itu, dinamika yang terjadi selama muktamar diharapkan tidak berlanjut menjadi polarisasi di internal organisasi.
“Ukuran keberhasilan kepemimpinan PBNU pada akhirnya bukan hanya bagaimana organisasi berjalan di tingkat pusat, tetapi bagaimana kebijakan dan program itu benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga NU di bawah,” ujarnya.
Gus Kikin, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, sebelumnya menjadi kandidat dengan perolehan suara tertinggi dalam proses penjaringan calon Ketua Umum PBNU pada Minggu (30/8/2026) malam.
Dari total 2.397 suara, Gus Kikin memperoleh 472 suara. Lima nama dengan perolehan suara tertinggi selanjutnya diserahkan kepada sembilan kiai sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) untuk menentukan Ketua Umum PBNU.
Melalui mekanisme tersebut, Gus Kikin akhirnya dipercaya memimpin PBNU masa khidmah 2026-2031. Sebelum proses penetapan Ketua Umum, sembilan anggota AHWA terlebih dahulu menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU.
Dengan terpilihnya KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin, PBNU kini memasuki periode kepemimpinan baru. PCNU Magetan berharap duet keduanya dapat membawa NU semakin solid sekaligus memperkuat khidmah organisasi kepada umat dan masyarakat luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....