Mengubah Paradigma Sampah sebagai 'Harta Karun' di Rumah

  • 17 Agt 2026 14:13 WIB
  •  Madiun
Poin Utama
  • Ir. Wuryantoro dari Fakultas Pertanian Universitas Merdeka Madiun menawarkan perspektif baru bahwa sampah rumah tangga bukan masalah melainkan potensi ekonomi yang tersembunyi.
  • Paradigma masyarakat perlu diubah total untuk melihat sampah sebagai sumber daya yang dapat diolah secara kreatif dan menghasilkan nilai ekonomi tinggi.
  • Dialog ini disampaikan dalam segmen Green Radio di Programa 1 RRI Madiun pada Sabtu 08 Agustus 2026 sebagai bagian dari edukasi pengelolaan limbah domestik.

RRI.CO.ID, Madiun - Masalah sampah sering kali menjadi beban pikiran bagi banyak keluarga di perkotaan. Tumpukan limbah rumah tangga kerap dianggap sebagai masalah yang tak berujung, namun Ir. Wuryantoro, M.P., seorang dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Merdeka Madiun, menawarkan perspektif yang berbeda. Ia menekankan bahwa sampah sebenarnya bukan musuh, melainkan potensi ekonomi yang tersembunyi jika dikelola dengan benar.

Dalam sebuah dialog di segmen Green Radio, Sabtu 08 Agustus 2026 di Programa 1 RRI Madiun, Wury menjelaskan bahwa paradigma masyarakat perlu dirombak total. Sampah tidak boleh lagi dipandang sebagai benda yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir begitu saja, tetapi harus dilihat sebagai sumber daya. Dengan pengolahan yang kreatif, limbah rumah tangga bisa berubah menjadi barang bernilai ekonomi tinggi.

"Sampah itu jangan dianggap sebagai masalah, tapi anggaplah sebagai sumber daya," tegas Wury. Menurutnya, banyak negara maju telah berhasil membuktikan bahwa sampah bisa diolah menjadi pupuk organik, kerajinan tangan, hingga bahan bangunan seperti paving block.

Langkah nyata ini harus dimulai dari skala terkecil, yakni rumah tangga. Dengan memilah sampah organik dan anorganik, setiap keluarga sebenarnya sedang berinvestasi pada masa depan lingkungan. Kesadaran untuk mengolah sampah di rumah merupakan langkah fundamental dalam menjaga ekosistem tetap sehat.

Selain nilai ekonomi, perubahan cara pandang ini juga berdampak pada pengurangan volume sampah di TPA. Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mengubah kebiasaan masyarakat yang masih instan. Dibutuhkan edukasi yang masif agar setiap individu menyadari bahwa tangan mereka sendirilah yang menentukan kebersihan lingkungan.

Pada akhirnya, pengelolaan sampah adalah tentang karakter. Jika setiap individu memiliki karakter cinta lingkungan yang kuat, maka sampah tidak akan lagi menjadi masalah global yang menakutkan. Lingkungan yang bersih akan menjadi warisan berharga bagi generasi yang akan datang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....