Produksi Telur Magetan 79 Ton Sehari, Kebutuhan Lokal Hanya 30 Ton

  • 12 Agt 2026 02:42 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Produksi telur ayam ras di Kabupaten Magetan mencapai sekitar 79,27 ton per hari. Jumlah tersebut jauh melampaui kebutuhan masyarakat Magetan yang hanya sekitar 30,34 ton per hari.

Kelebihan pasokan itu menjadi salah satu persoalan yang dihadapi peternak karena berpotensi menekan harga telur di tingkat produsen. Pemerintah daerah dan DPRD Magetan kini mendorong pemetaan jumlah peternak dan populasi ayam untuk mengetahui kapasitas produksi secara lebih menyeluruh.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan drh. Nur Haryani mengatakan saat ini terdapat 1.036 peternak ayam petelur dengan populasi sekitar 2.936.400 ekor.

Dari populasi tersebut, produksi telur mencapai sekitar 79.273 kilogram per hari. Sementara konsumsi masyarakat Magetan hanya sekitar 30.341 kilogram per hari.

"Produksi kita memang lebih tinggi dibandingkan kebutuhan masyarakat. Kondisi overproduksi ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan harga telur mengalami penurunan," kata Nur Haryani.

Selisih produksi yang cukup besar membuat sebagian telur harus dipasarkan ke luar daerah. Kondisi tersebut menjadi tantangan ketika permintaan pasar tidak mampu menyerap seluruh produksi peternak.

Menurut Nur Haryani, program Makan Bergizi Gratis melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat membantu menyerap produksi telur lokal. Namun, daya serapnya masih relatif kecil dibandingkan total produksi.

Apabila program tersebut dilaksanakan dua kali dalam sepekan, kebutuhan telur diperkirakan sekitar tujuh ton. Jumlah itu masih jauh di bawah produksi telur Magetan yang mencapai lebih dari 79 ton setiap hari.

Karena itu, pemerintah daerah menilai perlu ada pemetaan populasi peternakan. Data tersebut diperlukan untuk melihat jumlah peternak, populasi ayam, kapasitas produksi, serta perkembangan usaha peternakan di masing-masing wilayah.

Ketua Komisi B DPRD Magetan Rita Haryati mengatakan pemetaan menjadi penting karena persoalan yang dihadapi peternak tidak hanya berkaitan dengan harga jual, tetapi juga keseimbangan antara produksi dan permintaan.

Menurut Rita, jumlah populasi ayam petelur yang terus berkembang tanpa diikuti peningkatan pasar dapat membuat kelebihan pasokan semakin besar.

"Kami mendorong adanya pemetaan populasi peternakan secara menyeluruh. Keseimbangan antara jumlah produksi dan kebutuhan pasar perlu dijaga," ujarnya.

Rita juga menilai pengaturan populasi perlu dibahas lebih lanjut. Namun, pemerintah daerah masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat sebagai dasar dalam mengatur populasi peternakan.

Dari sisi peternak, Parlan mengatakan kelebihan produksi menjadi persoalan serius ketika harga pakan tetap tinggi. Peternak harus menanggung biaya produksi yang besar sementara harga telur justru turun.

Ia berharap ada kebijakan yang tidak hanya mengatur produksi, tetapi juga memperkuat penyerapan telur lokal sehingga hasil produksi peternak tetap memiliki pasar.

"Kami berharap antara peternak, supplier, dan pedagang ada keseragaman harga. Pada prinsipnya kami merupakan mata rantai yang saling membutuhkan," kata Parlan.

Selain pemetaan populasi, audiensi lintas sektor yang digelar di Polres Magetan juga membahas pengawasan pendirian peternakan baru. Peserta mendorong setiap usaha peternakan baru memenuhi ketentuan perizinan dan disosialisasikan kepada asosiasi peternak.

Pemerintah daerah, DPRD, peternak, dan pelaku usaha juga sepakat memperkuat penyerapan telur lokal, termasuk melalui program SPPG, serta meningkatkan pengawasan pasar untuk menjaga perdagangan telur tetap berjalan secara sehat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....