Mentadabburi Surah Al lahab
- 12 Agt 2026 11:30 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID,Madiun – Al-Qur’an tidak hanya berisi ayat untuk dibaca, tetapi juga menyimpan banyak hikmah dan pelajaran yang relevan untuk kehidupan manusia di setiap zaman. Salah satunya terdapat dalam Surah Al-Lahab, surah ke-111 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari lima ayat.
Kisah turunnya Surah Al-Lahab berkaitan dengan perjalanan dakwah Rasulullah SAW ketika menyampaikan risalah kenabian kepada keluarga dan kerabatnya. Rasulullah SAW kemudian naik ke Bukit Shafa untuk menyeru keluarganya dan menyampaikan peringatan kepada mereka.
Dalam peristiwa tersebut, Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthalib yang dikenal dengan nama Abu Lahab, paman Rasulullah SAW, merespons seruan tersebut dengan perkataan yang menunjukkan penolakan dan penghinaan. Peristiwa itu kemudian menjadi salah satu latar turunnya Surah Al-Lahab.
Tadabbur Surah Al-Lahab menjadi pembahasan dalam program Mutiara Pagi di PRO 1 RRI Madiun, Sabtu (8/8/2026). Ustadz Shofar, S.Pd.I., SM., yang hadir sebagai narasumber menjelaskan bahwa sosok Abu Lahab tidak hanya menjadi bagian dari sejarah dakwah Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi simbol karakter manusia yang menentang dan menghalangi dakwah.
“Abu Lahab adalah paman Nabi yang terus-menerus menghambat, membenci dan mengancam dakwah Nabi. Abu Lahab adalah simbol pembangkangan terhadap dakwah, simbol orang yang menghalangi dakwah,” jelas Ustadz Shofar.
Menurutnya, penyebutan Abu Lahab dalam Al-Qur’an mengandung pelajaran bahwa karakter manusia yang menghalangi dakwah akan terus muncul sepanjang zaman. Pemerannya dapat berbeda, tetapi pola perilakunya dapat serupa.
“Manusia model Abu Lahab akan ada pada setiap zaman, tetapi berbeda pemerannya, berbeda orangnya,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, dalam kehidupan saat ini masih dapat ditemukan orang-orang yang berusaha menghalang-halangi dakwah Islam. Ada yang tidak senang dengan kajian Islam, menghambat kegiatan keislaman, maupun berusaha menghentikan perjalanan dakwah.
Karena itu, kisah Abu Lahab menurutnya tidak semata-mata untuk mengenang sebuah peristiwa pada masa Rasulullah SAW. Lebih jauh, kisah tersebut menjadi refleksi agar umat Islam mampu mengenali karakter dan perilaku yang dapat menghambat kebaikan.
“Ceritanya sama, pemerannya yang berganti,” ujarnya.
Selain sosok Abu Lahab, Surah Al-Lahab juga menyebut istrinya, Ummu Jamil. Dari kisah tersebut, umat Islam diajak untuk mengambil pelajaran agar tidak ikut terjerumus dalam perilaku permusuhan, kebencian, maupun tindakan yang menghalangi kebaikan.
Ustadz Shofar menekankan pentingnya meninggalkan ajakan yang mengarah pada permusuhan dan kebencian. Menurutnya, siapa pun yang menyampaikan ajakan tersebut, termasuk orang yang dihormati atau dikagumi, apabila perkataannya mengarahkan kepada keburukan maka tidak semestinya diikuti.
“Maka sederhananya, apa pun alasannya menjadi sebab kita bermusuhan, saling membenci, wajib kita abaikan, wajib kita tinggalkan. Meskipun orang yang berbicara adalah orang yang kita hormati, orang yang kita kagumi, jika ucapannya mengajak atau mengarah kepada itu, wajib ditinggalkan tanpa membencinya,” jelasnya.
Tadabbur Surah Al-Lahab pada akhirnya mengingatkan bahwa dakwah dan perjuangan menegakkan kebaikan akan selalu menghadapi tantangan. Namun, umat Islam dituntut untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian, melainkan tetap menjaga akhlak, meninggalkan permusuhan, serta berpegang pada nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....