Kota Madiun Alami Deflasi 0,12 Persen Juli 2026, Dipicu Turunnya Harga Hortikultura

  • 05 Agt 2026 13:00 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun mencatat Kota Madiun mengalami deflasi sebesar 0,12 persen secara bulanan (m-to-m) pada Juli 2026. Deflasi dipicu penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura, terutama bawang merah.

Kepala BPS Kota Madiun, Abdul Azis, mengatakan bawang merah menjadi komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar selama Juli 2026 setelah harganya turun 29,60 persen. Menurutnya, penurunan harga tersebut dipengaruhi kondisi cuaca yang mendukung produktivitas hortikultura serta panen raya bawang merah di sejumlah sentra produksi.

"Berdasarkan analisis curah hujan BMKG di Jawa Timur pada dasarian II Juli 2026, pada umumnya curah hujan berada pada kategori rendah. Kondisi ini menjadi iklim yang cocok untuk peningkatan produktivitas, khususnya produk hortikultura," jelas Azis saat menyampaikan Berita Resmi Statistik, Senin 3 Agustus 2026.

"Selain itu, beberapa sentra produksi bawang merah di Indonesia juga memasuki masa panen raya sehingga stok di sejumlah wilayah aman dan dapat menekan harga di tingkat konsumen," lanjutnya.

Selain bawang merah, deflasi juga didorong penurunan harga sejumlah komoditas lainnya, yakni cabai rawit sebesar 20,41 persen, telur ayam ras 6,34 persen, tomat 16,96 persen, emas perhiasan 0,95 persen, jeruk 6,35 persen, cabai merah 6,85 persen, semangka 8,79 persen, tarif kereta api 3,49 persen, serta daging ayam ras 1,03 persen.

Sementara itu, Beberapa komoditas masih menahan laju deflasi, di antaranya bensin, beras, tarif taman kanak-kanak, ketimun, sepeda motor, laptop atau notebook, jasa tukang bukan mandor, wortel, kacang panjang, dan daging sapi.

Azis mengatakan deflasi pada Juli 2026 merupakan deflasi ketiga yang terjadi di Kota Madiun sepanjang tahun ini. Sebelumnya, Kota Madiun mengalami deflasi sebesar 0,23 persen pada Januari 2026 dan 0,02 persen pada April 2026.

Azis juga memaparkan inflasi Kota Madiun secara tahunan (year-on-year) pada Juli 2026 mencapai 2,86 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,79 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date) hingga Juli 2026 tercatat sebesar 1,60 persen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....