Biaya Produksi Melonjak, Petani Tebu Magetan Tertekan pada Musim Giling 2026

  • 05 Agt 2026 00:11 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Lonjakan biaya produksi menjadi tantangan terbesar yang dihadapi petani tebu di wilayah kerja Pabrik Gula (PG) Poerwodadie, Kabupaten Magetan, pada musim giling tahun ini. Kenaikan terjadi hampir di seluruh komponen usaha, mulai dari upah tenaga kerja, biaya tebang, hingga ongkos angkut tebu menuju pabrik.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) PG Poerwodadie, Sudaryanto, mengatakan meningkatnya biaya operasional membuat keuntungan petani terus menyusut. Bahkan, banyak petani kini berada pada posisi impas hingga berpotensi merugi.

"Posisinya sekarang antara impas dengan rugi. Biaya garap naik semua, mulai tenaga kerja, ongkos tebang sampai angkutan," ungkap Sudaryanto.

Ia menjelaskan ongkos angkut tebu saat ini berkisar Rp48.000 hingga Rp50.000 per kuintal, bergantung pada jarak lahan menuju pabrik. Hampir seluruh biaya operasional mengalami kenaikan dibanding musim sebelumnya.

"Sekarang ongkos angkut sekitar Rp48.000 sampai Rp50.000 per kuintal tergantung jauh dekatnya lahan. Semua biaya operasional naik," katanya.

Selain ongkos angkut, kenaikan juga terjadi pada upah tenaga kerja. Upah pekerja laki-laki meningkat dari sekitar Rp60.000 menjadi Rp80.000 per hari. Sementara pekerja perempuan juga menerima upah lebih tinggi dibanding musim sebelumnya, di luar biaya konsumsi yang harus disediakan petani.

Sudaryanto menambahkan, petani juga menghadapi persoalan sulitnya memperoleh tenaga tebang ketika musim giling berlangsung. Kondisi itu diperparah antrean tebu di pabrik yang menyebabkan proses pengolahan kurang efisien dan menambah beban biaya.

"Sulit mencari tenaga tebang, antrean tebu di pabrik juga membludak. Jadi pengeluaran petani semakin besar," ujarnya.

Meski harga gula tahun ini lebih baik dibanding musim sebelumnya, ia menilai kenaikan tersebut belum mampu mengimbangi lonjakan biaya produksi yang terjadi hampir di seluruh sektor usaha tani tebu.

Menurutnya, salah satu solusi yang diharapkan petani adalah segera ditetapkannya Harga Acuan Pemerintah (HAP) gula konsumsi sesuai usulan organisasi petani. Kepastian harga dinilai penting agar usaha perkebunan tebu rakyat tetap berkelanjutan di tengah meningkatnya biaya produksi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....