Bahasa Pergaulan Kekinian, Memperkaya atau Merusak
- 04 Agt 2026 07:18 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID,Madiun – Maraknya penggunaan media sosial telah melahirkan berbagai istilah dan bahasa pergaulan kekinian yang semakin akrab digunakan masyarakat, terutama generasi muda.
Fenomena ini dinilai dapat memperkaya kosakata bahasa Indonesia, namun juga berpotensi merusak apabila digunakan tanpa memperhatikan konteks dan menggeser penggunaan bahasa baku dalam situasi formal.
Hal tersebut disampaikan oleh Dra. Agnes Adhani, M.Hum., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Kota Madiun, saat menjadi narasumber dalam program Ngobras di PRO 1 RRI Madiun, Senin (3/8/2026).
Menurut Agnes, bahasa merupakan alat untuk menyampaikan gagasan, pikiran, ide, perasaan, maupun pendapat agar dapat dipahami oleh lawan bicara secara tepat sesuai konteks. Karena itu, perkembangan bahasa merupakan sesuatu yang wajar mengingat bahasa bersifat dinamis dan terus mengikuti perkembangan masyarakat.
"Bahasa itu kan dinamis dan dipakai berbagai kalangan. Contoh sekarang ada kata circle yang bermakna kelompok atau perkumpulan. Nah, ini yang menjadi tugas berat para guru dan dosen agar tidak latah dalam penggunaannya," ujarnya.
Agnes menjelaskan, penggunaan bahasa gaul dalam kehidupan sehari-hari memiliki sisi positif maupun negatif. Dari sisi positif, bahasa pergaulan dapat memperkaya variasi kosakata dan menjadi bentuk kreativitas berbahasa dalam lingkungan tertentu.
"Dampak positifnya memperkaya bahasa. Asal orang sadar bahwa bahasa ini dipakai untuk pergaulan, percakapan nonresmi," katanya.
Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan bahasa gaul yang tidak tepat dapat berdampak pada menurunnya etika berbahasa, terutama ketika digunakan kepada guru, dosen, atau dalam situasi yang menuntut penggunaan bahasa Indonesia baku.
"Dampak negatifnya, generasi muda kurang memiliki etika, seperti ketika menggunakan bahasa gaul kepada guru atau dosen," jelasnya.
Di akhir perbincangan, Agnes mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih ragam bahasa sesuai dengan situasi dan lawan bicara. Menurutnya, bahasa pergaulan kekinian dapat diterima sebagai bentuk kreativitas dan dialek dalam kelompok tertentu selama tetap digunakan secara kontekstual.
Sebagai pendidik dan bagian dari komunitas pecinta bahasa Indonesia, Agnes menekankan pentingnya tidak bersikap latah terhadap tren bahasa yang berkembang.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, benar, dan santun sebagai sarana mengembangkan akal budi serta mempererat kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....