Musim Kemarau Panjang, Sejumlah Daerah di Magetan Rawan Alami Kekeringan
- 25 Jul 2026 08:26 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Magetan - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih lama dengan kondisi yang lebih kering sehingga berpotensi memicu kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla).
Kepala Pelaksana BPBD Magetan, Eka Raditya, mengatakan hasil pemetaan menunjukkan sedikitnya empat kecamatan berpotensi mengalami krisis air bersih, yakni Parang, Lembeyan, Karas, dan Poncol. Sementara itu, kawasan yang dinilai memiliki risiko tinggi terhadap karhutla meliputi Kecamatan Plaosan, Poncol, Parang, dan Kawedanan.
"Prediksi BMKG menunjukkan musim kemarau tahun ini lebih panjang dan lebih kering, bahkan diperkirakan berlangsung hingga November. Karena itu kami mengantisipasi dua potensi bencana utama, yaitu kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan," kata Eka, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, periode paling rawan diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. Meski demikian, dampak musim kemarau masih bisa dirasakan sampai beberapa bulan setelahnya, termasuk berkurangnya debit sumber mata air dan saluran irigasi yang menopang sektor pertanian.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah menyiapkan sekitar 30 tandon air dengan kapasitas antara 1.200 hingga 2.300 liter. Apabila diperlukan, distribusi air bersih akan melibatkan armada dari Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Perumda Air Minum (PDAM).
Selain menyiapkan sarana pendukung, BPBD juga memperkuat koordinasi lintas sektor dengan melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD), TNI, Polri, relawan kebencanaan, dan berbagai instansi terkait agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat jika terjadi kekeringan maupun karhutla.
Meski telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, hingga kini BPBD belum menerima permohonan bantuan air bersih dari masyarakat.
"Alhamdulillah sampai hari ini belum ada permintaan dropping air. Mudah-mudahan kondisi itu tetap bertahan, karena kalau BPBD tidak harus turun berarti situasinya masih aman," ujar Eka.
Ia menjelaskan, bantuan air bersih nantinya akan diprioritaskan bagi wilayah yang benar-benar mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air. Desa-desa yang telah memiliki jaringan PDAM atau sumber air alternatif akan menjadi pertimbangan tersendiri dalam penyaluran bantuan.
Di samping itu, BPBD terus memonitor perkembangan tinggi muka air tanah serta ketersediaan air baku, terutama untuk mendukung kebutuhan irigasi pertanian. Pasalnya, musim kemarau yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada pemenuhan air bersih bagi masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu produktivitas sektor pertanian.
"Kami akan memprioritaskan penggunaan tandon maupun dropping air ke daerah yang benar-benar membutuhkan. Jika suatu wilayah sudah memiliki jaringan PDAM atau sumber air lain yang memadai, tentu akan kami pertimbangkan dalam penyaluran bantuan," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....