BMKG Juanda Imbau Waspada Karhutla di Jatim, Puncak Kemarau Diprediksi Agustus

  • 22 Jul 2026 12:56 WIB
  •  Madiun
Poin Utama
  • BMKG Juanda dan BPBD Jawa Timur mengeluarkan peringatan dini meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di tengah kondisi cuaca kemarau yang semakin kering.
  • Sejumlah titik panas (hotspot) telah terdeteksi di berbagai wilayah termasuk Situbondo, Ponorogo, Trenggalek, dan Bojonegoro berdasarkan analisis citra satelit terkini.
  • Kategori tinggi indikator satelit menunjukkan tingkat kepastian terjadinya kebakaran lahan yang sangat besar, sehingga memerlukan pengawasan dan tindakan pencegahan yang lebih intensif.

RRI.CO.ID, Madiun - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengimbau masyarakat Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data terbaru, sejumlah titik panas (hotspot) telah terdeteksi tersebar di beberapa wilayah kabupaten, di antaranya Situbondo, Ponorogo, Trenggalek, hingga Bojonegoro akibat kondisi cuaca kemarau yang makin kering.

Prakirawan BMKG Juanda, Levi Ratnasari, S.Tr., PMG Muda, melalui obrolan singkat informasi cuaca Programa 1 RRI Madiun, Rabu, 22 Juli 2026 menjelaskan bahwa pengategorian titik panas oleh citra satelit merujuk pada tingkat kepercayaan potensi kebakaran di suatu lokasi. “Ketika indikator satelit menunjukkan kategori tinggi hal tersebut menandakan persentase serta tingkat kepastian terjadinya kebakaran lahan di titik tersebut sangat besar,” kata Levi, sehingga memerlukan pengawasan dan tindakan pencegahan yang lebih intensif.

Untuk kawasan Madiun Raya dan sekitarnya, BMKG mencatat kondisi yang bervariasi di tiap daerah. Di Kabupaten Pacitan, satelit mendeteksi dua titik panas yang sudah masuk dalam kategori tinggi. Sementara itu, titik panas di wilayah Madiun secara umum masih terpantau pada kategori rendah, namun kewaspadaan penuh tetap diminta bagi kawasan yang berbatasan langsung dengan hutan, seperti Kecamatan Kare, Gemarang, dan Saradan.

Selain faktor kekeringan dan kelembapan udara yang rendah, kondisi angin kencang menjadi salah satu pemicu utama yang dapat mempercepat penyebaran kobaran api. “Khusus wilayah Madiun pada hari ini, kecepatan angin maksimum terpantau mencapai 15 Knot atau setara 30 kilometer per jam. Kecepatan angin tersebut tergolong cukup tinggi dan berpotensi membuat potensi kebakaran hutan dan lahan lebih cepat meluas,” ungkap Levi.

Ancaman karhutla diperkirakan masih perlu diwaspadai dalam beberapa waktu ke depan mengingat musim kemarau belum mencapai puncaknya. Berdasarkan data prakiraan dari BMKG Juanda, puncak musim kemarau di wilayah Jawa Timur diprediksi baru akan terjadi pada bulan Agustus mendatang, di mana hari tanpa hujan akan berlangsung lebih panjang dan membuat vegetasi lahan semakin rawan terbakar.

Menyikapi potensi bahaya tersebut, BMKG mengimbau masyarakat, terutama warga yang tinggal atau beraktivitas di sekitar batas perhutanan, untuk menghindari praktik pembakaran sampah maupun pembersihan lahan menggunakan api. Kerja sama seluruh pihak dalam memantau titik api sangat diperlukan guna mencegah timbulnya bencana kebakaran lahan yang lebih besar di Jawa Timur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....