Briket Kulit Kacang Antar Siswa MAN 2 Kota Madiun Raih Silver Medal Internasional
- 15 Jul 2026 12:14 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Siapa sangka limbah kulit kacang yang selama ini hanya dianggap sampah justru menjadi inovasi yang membawa prestasi internasional. Ide tersebut mengantarkan Errickxandy Farentra Gurindogana bersama Kayla Zulfaa Afzawidya, siswa MAN 2 Kota Madiun, meraih Silver Medal dalam ajang Student Conference 16th World Robotic for Peace International yang digelar di Malaysia dan Singapura.
Keduanya mengembangkan penelitian mengenai pemanfaatan limbah kulit kacang menjadi briket ramah lingkungan sebagai bahan bakar alternatif. Inspirasi itu muncul dari kebiasaan mengonsumsi sambal pecel, makanan khas Madiun yang menghasilkan cukup banyak limbah kulit kacang.
Alih-alih membiarkan limbah tersebut terbuang, Errick bersama tim mencoba mencari berbagai referensi ilmiah. Mereka menemukan penelitian serupa yang menggunakan kulit kacang almond, kemudian mengembangkan ide tersebut dengan memanfaatkan kulit kacang lokal yang lebih mudah ditemukan di Kota Madiun.
Perjalanan penelitian tidak selalu berjalan mulus. Berulang kali mereka mengalami kegagalan saat proses uji coba. Briket yang dibuat sempat mengembang, berongga, bahkan tidak dapat terbakar dengan sempurna. Namun setiap kegagalan justru menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki komposisi dan teknik pembuatan.
Penelitian tersebut telah dimulai sejak mereka duduk di kelas 10. Selama hampir dua tahun, mereka terus melakukan eksperimen hingga menghasilkan produk yang layak dipresentasikan di tingkat internasional.
Dalam presentasinya, Errick dan Kayla menjelaskan bahwa kulit kacang mengandung senyawa lignoselulosa dan hemiselulosa yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Selain mengurangi limbah, inovasi tersebut juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Ide tersebut mendapat perhatian khusus dari dewan juri. Mereka menilai penggunaan limbah kulit kacang sebagai bahan baku briket merupakan gagasan yang unik dan memiliki peluang besar untuk dipasarkan, mengingat permintaan briket ramah lingkungan di berbagai negara terus meningkat.
Bagi Errick dan Kayla, penghargaan Silver Medal menjadi motivasi untuk terus menyempurnakan penelitian mereka. Ke depan, mereka berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi berkembang menjadi produk yang mampu membuka peluang usaha sekaligus membantu mengurangi limbah organik.
Selain itu, keduanya ingin mengajak generasi muda agar lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Menurut mereka, banyak potensi yang sering dianggap sepele, padahal dapat diubah menjadi inovasi yang bermanfaat apabila dipadukan dengan kreativitas dan semangat riset.
Kisah Errick dan Kayla membuktikan bahwa inovasi besar sering kali berawal dari hal-hal sederhana yang luput dari perhatian. Dari limbah kulit kacang khas Kota Madiun, lahir sebuah karya yang mampu menembus kompetisi internasional. Sebuah pengingat bahwa ketika kreativitas bertemu ketekunan, bahkan sesuatu yang dianggap sampah pun bisa berubah menjadi prestasi yang mengharumkan nama bangsa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....