Terapi Interaksi Publik Bagi ABK yang Akan Masuk Sekolah Reguler

  • 11 Jul 2026 12:46 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID,Madiun – Terapi interaksi publik dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam mempersiapkan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sebelum memasuki lingkungan sekolah reguler. Melalui interaksi yang lebih luas, ABK diharapkan mampu membangun relasi sosial, meningkatkan kepercayaan diri, serta belajar mengelola emosi di tengah masyarakat.

Pemilik Sekolah Anak Autis & Special Need DALTA OZORA Madiun, Arif Budhi Santoso, mengatakan bahwa pada umumnya ABK mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, seperti rasa minder, tidak nyaman, takut, hingga kurang percaya diri. Padahal, seiring bertambahnya usia, anak membutuhkan lingkungan sosial yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada keluarga.

"Maka cara terbaiknya adalah menempatkan anak di lingkungan yang lebih besar dan lebih luas. Hal ini akan membuat si anak menyadari bahwa ternyata ada orang lain di luar keluarganya. Sehingga mereka memahami bahwa tidak semua orang bersuara lembut dan tidak semua orang akan selalu bersikap ramah kepada mereka," ujar Arif saat menjadi narasumber dalam acara Ruang Disabilitas dan Inklusi di Pro 1 RRI Madiun, Sabtu (11/7/2026).

Menurut Arif, tantangan terbesar yang dihadapi ABK adalah kemampuan mengelola emosi atau regulasi emosi. Ia menegaskan bahwa setiap anak boleh merasakan emosi, tetapi harus dibimbing agar tidak mengekspresikannya secara tidak terkontrol.

Ia menjelaskan, proses terapi terbaik dimulai dari lingkungan keluarga, terutama orang tua, dengan membiasakan anak berinteraksi bersama masyarakat melalui berbagai kegiatan.

"Dilatih bersama-sama beribadah ke masjid, bermain di tempat keramaian, berbaur dengan orang lain seperti menonton konser musik, mengikuti jalan sehat bersama masyarakat, dan kegiatan sosial lainnya," katanya.

Selain melatih interaksi sosial anak, Arif juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam membangun komunikasi yang baik dengan guru maupun wali murid di sekolah. Orang tua yang memiliki ABK diharapkan memberikan informasi secara terbuka mengenai kondisi dan kebutuhan anak.

"Informasi yang disampaikan orang tua harus lengkap dan terbuka. Hal ini bertujuan agar guru, teman sekelas, maupun wali murid dapat memberikan dukungan dan treatment yang tepat di lingkungan sekolah. Dengan begitu, proses anak dalam membangun relasi sosial akan lebih cepat dan berjalan dengan baik," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....