Akademisi UGM dan Seniman Ponorogo Gelar Diskusi Kajian Ergonomi Dadak Merak

  • 28 Jun 2026 20:40 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Ponorogo - Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Sanggar Tari Kawulo Bantarangin mengadakan kajian Ergonomi Dadak Merak pada remaja dan dewasa, Sabtu (27/6/2026). Kegiatan sarasehan itu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan Reog Ponorogo pasca ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTb) UNESCO.

Kepala Pengelola Sanggar Tari Kawulo Bantarangin, Ridzwan Miftahul Aji mengatakan, kajian Ergonomi Dadak Merak itu merupakan program dari pascasarjana UGM. Menurutnya, dadak merak menjadi salah satu properti penting dalam reog. Kajian Ergonomi itu di antaranya berkaitan dengan kesehatan, kenyamanan dan, efisien karena dadak merak tersebut digunakan oleh pembarong.

"Pendekatan ilmunya bukan hanya pendekatan ilmu tentang karakter, estetika atau pun berkaitan dengan visual tapi juga pendekatannya mengarah ke kesehatan para pembarong yang wajib diperhatikan," ujarnya.

Mifta- sapaan akrabnya mengungkapkan, anak muda khususnya remaja harus melek atau memahami seluk beluk Reog Ponorogo. Mulai fungsi pelestarian, kekaryaan hingga unjuk keterampilan.

"Tentunya memainkan dadak merak itu juga masuk ranah prestasi. Ini tentu memudahkan mereka ke jenjang sekolah selanjutnya, bahkan untuk meraih beasiswa juga," tambahnya.

Ia dari Sanggar Tari Kawulo Bantarangin terbuka untuk siapapun termasuk UGM untuk bersama-sama berdiskusi dan berbagi ilmu tentang seni. Ia berharap pasca sarasehan ini ada tindak lanjut dari para pembarong untuk lebih mengetahui makna, filosofi dan fungsi dadak merak.

"Acara ini ke dela tidak mandek disini. Riset-riset selanjutnya mudah-mudahan memberikan manfaat untuk perkembangan Reog Ponorogo," jelasnya.

Sementara itu Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita mendukung penuh dan mengapresiasi adanya forum diskusi tersebut. Hal itu merupakan wujud partisipasi masyarakat untuk pengembangan dan pelestarian kesenian Reog, khususnya di Ponorogo.

"Penting kiranya bahwa setelah kesenian Reog diakui UNESCO, harus ada keberlanjutan dari unsur pelestarian. Makanya diskusi dan kegiatan seperti ini harus sering dilakukan," ungkap Bunda Rita- sapaan akrabnya.

Seperti diketahui, Kajian Ergonomi Dadak Merak di Ponorogo itu menghadirkan narasumber Dr.G.Lono Lastro Simatupang, serta Ridzwan Miftahul Aji. Kemudian tiga pembicara dalam diskusi itu yakni pembarong senior, Nursamsi. Pengrajin Reog Ponorogo, Ginanjar Heru Cahyo serta Pembarong Remaja yakni Rizqi Diva Pratama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....