Menjadi Pribadi yang Berjiwa Besar dengan Mudah Memaafkan

  • 15 Jun 2026 18:51 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Manusia hidup sebagai makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan orang lain dalam kehidupan, pasti tak luput dari kesalah pahaman yang terjadi ketika bersosialisasi. Seorang ustadz di Madiun, Prof. Dr. KH. M. Sutoyo, M.Ag., menekankan pentingnya menanamkan jiwa besar dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Ia menjelaskan bahwa jiwa besar merupakan kemampuan seseorang untuk menerima kesalahan orang lain dengan lapang dada dan memberikan maaf, bahkan sebelum pihak yang bersalah memintanya. Langkah pertama untuk mencapai kemuliaan tersebut adalah dengan menyadari hakikat sifat manusia.

Menurut Ustadz Sutoyo mengungkapkan bahwa setiap individu tidak luput dari kekhilafan, sehingga memaafkan kesalahan orang lain pada dasarnya adalah cerminan dari kesadaran bahwa diri kita pun bisa berbuat salah.

"Sebelum mereka minta maaf kita sudah memberi maaf. Itu mulia. Jadi gak usah menunggu mereka minta maaf. Kita sudah memberi maaf. itu sangat mulia di sisi Allah Subhanahu wa taala, “ tuturnya, kemarin.

Selain kesadaran memberi maaf, Ustadz Sutoyo juga menyarankan untuk melatih rasa kasihan kepada mereka yang berbuat salah. Dengan mengubah cara berpikir dan melihat orang lain dengan rasa empati, seseorang akan lebih mudah melepaskan dendam dan memaafkan kesalahan yang telah diperbuat.

Ustadz Sutoyo mengingatkan bahwa memberi maaf adalah perbuatan yang sangat mulia di sisi Allah. Ia menjelaskan bahwa bagi mereka yang mampu berjiwa besar dalam memaafkan, Allah menjanjikan pahala serta keberkahan hidup yang luar biasa, bahkan hingga balasan surga yang setara dengan kedudukan orang-orang terpilih.

Untuk membantu melapangkan hati, ia menganjurkan praktik rutin membaca istigfar sebanyak 100 kali setelah salat subuh dan magrib, serta dianjurkan pula setelah salat tahajud. Amalan ini dinilai sangat efektif untuk menanamkan ketenangan batin sehingga hati menjadi lebih lunak dan mudah memaafkan.

“Habis subuh 100 kali dan habis magrib 100 kali. Ya sesudah subuh 100 kali, sesudah magrib 100 kali,” ungkap Ustadz Sutoyo.

Ustadz Sutoyo juga menegaskan pentingnya melakukan introspeksi diri sebelum terburu-buru menyalahkan pihak lain. Dengan senantiasa memeriksa diri sendiri, seseorang dapat menjaga emosi dan terhindar dari sikap marah yang berlebihan, sehingga karakter jiwa besar yang damai dapat terbentuk dengan kuat dalam diri setiap generasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....