Festival Bambu Magetan, Jadi Momentum Edukasi Lingkungan dan Dongkrak UMKM
- 13 Jun 2026 00:05 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Magetan - Festival Bambu yang digelar Pemerintah Kabupaten Magetan kembali menjadi bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Kegiatan berlangsung di area GOR Ki Mageti dan dibuka langsung oleh Bupati Magetan Nanik Sumantri, Jumat (12/6/2026) sore.
Memasuki penyelenggaraan ketiga, festival tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi produk unggulan daerah, tetapi juga sarana edukasi pengelolaan lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat.
Bupati Magetan Nanik Sumantri mengatakan persoalan sampah menjadi tantangan serius yang harus segera ditangani. Pasalnya, kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Magetan saat ini sudah mengalami kelebihan muatan atau overload.
Karena itu, menurutnya, pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya bergantung pada TPA. Penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari tingkat desa dan kelurahan melalui peningkatan kesadaran masyarakat.
“Pengelolaan sampah ini harus selesai di tingkat desa maupun kelurahan. Itu harapan kita ke depan,” ujar Nanik.
Selain mengusung isu lingkungan, Festival Bambu juga menjadi wadah promosi berbagai potensi lokal. Beragam stan yang ditampilkan memperlihatkan kreativitas masyarakat, mulai dari produk UMKM hingga pengenalan kembali pangan tradisional seperti ganyong, uwi, dan mili yang mulai jarang dijumpai.
Menurut Nanik, kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan perputaran ekonomi di Magetan sekaligus mengangkat pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
“Saya harapkan dengan adanya kegiatan ini, perputaran ekonomi di Magetan akan semakin baik dan UMKM semakin terangkat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Magetan Saif Muchlisun menjelaskan, Festival Bambu digelar untuk membangkitkan kembali kesadaran masyarakat terhadap besarnya manfaat tanaman bambu, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.
Menurutnya, bambu merupakan tanaman multifungsi. Saat masih muda, rebung dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Sedangkan batangnya dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan, pagar, furnitur hingga produk kreatif bernilai tinggi.
Bahkan, pada festival tersebut ditampilkan berbagai inovasi berbahan bambu, mulai dari kain, kaos, sepeda hingga aneka kerajinan lainnya.
Tidak hanya memiliki nilai ekonomi, bambu juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Akar bambu mampu menahan longsor, menyimpan cadangan air, serta berkontribusi dalam penyerapan karbon yang dibutuhkan untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
“Bambu memiliki fungsi ekonomi sekaligus fungsi ekologi. Tanaman ini mampu menahan longsor, menyimpan air, dan saat ini juga sangat penting karena mampu menyerap karbon,” jelas Saif.
Ia menambahkan, bambu telah lama menjadi salah satu produk unggulan Magetan, terutama yang berkembang di wilayah Ringinagung. Untuk itu, pemerintah daerah tengah menyiapkan Eco Bambu Park yang saat ini masih berada pada tahap penanaman dan pemeliharaan guna mewujudkan kawasan hutan bambu.
Festival Bambu, lanjut Saif, juga menjadi upaya membangun kembali kecintaan masyarakat terhadap bambu agar komoditas tersebut tetap terjaga dan mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah.
Penyelenggaraan kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak melalui kolaborasi antara pemerintah dan swasta. Sehingga festival ini diharapkan mampu menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....