Cuaca Madiun Raya 10 - 12 Juni, Cerah-Berawan, Potensi Hujan Lokal di Ponorogo & Pacitan

  • 10 Jun 2026 14:53 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nganjuk merilis, pola angin di wilayah Indonesia masih didominasi oleh aliran massa udara dari Benua Australia dengan kontribusi yang lebih kecil dari wilayah Samudra Hindia. Sehingga Monsun Timur masih menjadi pengendali utama cuaca di sebagian besar Indonesia termasuk Jawa Timur yang umumnya identik dengan kondisi musim kemarau yang relatif kering. Namun, Monsun Timur diprakirakan akan mengalami gangguan berupa belokan dan perlambatan angin pada periode 12–14 Juni yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan. Pengamat Meteorologi dan Geofisikan BMKG Nganjuk Setiyaris mengatakan, kondisi itu dapat memicu terjadinya hujan dengan skala lokal dan tidak merata, termasuk di beberapa wilayah Jawa Timur, meskipun secara umum karakter musim kemarau masih tetap dominan. Kemudian perkembangan fenomena El Niño pada bulan Juni menunjukkan kecenderungan semakin menguat, yang berpotensi mengurangi pasokan uap air ke wilayah Indonesia dan mendukung kondisi kemarau yang lebih kering pada bulan bulan berikutnya. Oleh karena itu, meskipun terdapat peluang peningkatan hujan dalam jangka pendek akibat gangguan monsun, kondisi atmosfer secara umum masih mendukung berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia termasuk Jawa Timur. Sementara itu cuaca dalam 3 hari kedepan untuk wilayah Madiun Raya didominasi cerah hingga cerah berawan, namun perlu diwaspadai adanya potensi hujan berskala lokal di wilayah Kabupaten Pacitan dan Ponorogo.

“Secara umum cuaca dalam 3 hari kedepan untuk wilayah Madiun Raya didominasi cuaca cerah hingga cerah berawan. Perlu diwaspadai adanya potensi hujan berskala lokal dengan intensitas ringan hingga sedang untuk wilayah Kabupaten Pacitan dan Ponorogo,” ungkap Setiyaris, Rabu 10 Juni 2026.

Setiyaris mengingatkan masyarakat untuk mulai mengantisipasi dampak musim kemarau yang ditandai dengan kondisi cuaca kering, minim hujan, dan meningkatnya kecepatan angin. Penggunaan air bersih hendaknya dilakukan secara bijak dan efisien untuk menjaga ketersediaan air selama periode kemarau. Petani juga disarankan menyesuaikan pola tanam dan pengelolaan irigasi sesuai dengan kondisi ketersediaan air di wilayah masing-masing. Selain itu, masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran sampah, lahan, maupun sisa-sisa pertanian karena kondisi vegetasi yang kering dan angin yang cukup kuat dapat mempercepat penyebaran api serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Perhatikan pula kondisi kesehatan dengan menjaga kecukupan cairan tubuh dan mengurangi aktivitas di bawah paparan sinar matahari secara langsung pada siang hari. Tetap ikuti perkembangan informasi cuaca dan iklim dari BMKG untuk mendukung kesiapsiagaan dalam menghadapi musim kemarau. (Shabrina).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....