Jaga Hati di Era Informasi, Bahaya Prasangka Buruk dalam Kehidupan Sehari-hari

  • 31 Mei 2026 22:01 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Dalam kehidupan sehari hari sebagai makhluk social, seorang manusia pasti tak luput dari prasangka buruk, sikap yang seperti ini relevan dengan kehidupan masyarakat modern saat ini. Dalam kajian islami Mutiara pagi Programa 1 RRI Madiun bersama narasumber Ustadzah Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah, M.Ag menekankan bahwa hati merupakan pusat dari segala perilaku manusia yang sering kali luput dari perhatian, meskipun memiliki pengaruh besar terhadap sikap dan tindakan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, Ustadzah Evi mengingatkan bahwa hati adalah sesuatu yang tidak terlihat, namun menyimpan hal luar biasa yang menentukan kualitas diri seseorang. Ia pun mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, “Wallahu ya’lamu ma fi qulubikum” yang berarti Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. “Artinya, hanya Allah yang tahu isi hati kita, dan kita tidak bisa membohongi-Nya,” jelasnya, menegaskan pentingnya kejujuran batin dalam menjalani kehidupan.

Lebih lanjut, Ustadzah Evi menyoroti fenomena sosial yang kerap terjadi, yakni kecenderungan seseorang merasa paling tahu meskipun pengetahuannya terbatas. Menurutnya, hal ini bisa berdampak negatif karena memicu kesalahpahaman hingga konflik di lingkungan sekitar. “Permasalahan yang sering terjadi saat ini adalah kita merasa tahu banyak hal, padahal sebenarnya hanya tahu sedikit,” ungkapnya, seraya mengingatkan bahwa sikap tersebut perlu dikendalikan agar tidak melukai orang lain.

Ustadzah Evi juga mencontohkan bagaimana prasangka dan gosip dapat muncul dari informasi yang tidak utuh, seperti saat seseorang melihat kondisi orang lain tanpa mengetahui latar belakang sebenarnya. “Kita hanya tahu sedikit tentang kondisi mereka, tetapi kemudian menyebarkan cerita yang belum tentu benar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dari sinilah lahir prasangka, gosip, bahkan fitnah yang dapat merusak hubungan sosial dan menimbulkan dosa.

Selain itu, pentingnya menjaga niat dalam bersyukur agar tidak terjebak pada sikap riya atau pamer. Dalam ajaran Islam memang dianjurkan untuk menyampaikan nikmat, namun harus tetap disertai ketulusan. “Jika disertai rasa sombong, maka syukur itu bisa berubah menjadi riya atau pamer. Perbedaannya sangat tipis,” jelasnya, menekankan bahwa pengendalian hati menjadi kunci utama dalam setiap perbuatan.

Sebagai penutup, Ustadzah Evi mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menjaga hati, ucapan, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga mengingatkan bahwa segala perbuatan manusia akan dicatat dan dipertanggungjawabkan. “Mari kita biasakan berbuat baik, menjaga hati, dan menjaga diri. Karena pada akhirnya, semua kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri,” pungkasnya, memberikan pesan reflektif untuk memulai hari dengan kesadaran dan kebaikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....