Penjabaran Mendalam Makna Dzikir dan Syukur di Hari Tasyrik
- 30 Mei 2026 13:37 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Hari tasyrik yang jatuh pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperkuat nilai spiritual. Dalam siaran Mutiara Pagi RRI Berjaringan Korwil Jawa Timur, Jumat 29 Mei 2026 bersama narasumber Ustadzah Dr. Luthfi Ulfa Ni'amah, M.Kom.I menegaskan bahwa hari tasyrik bukan sekadar lanjutan dari Idul Adha, tetapi juga hari yang sarat makna sebagai hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.
Ustadza Ltfi menekankan bahwa inti dari hari tasyrik adalah penguatan dua nilai utama, yakni dzikir dan syukur. Ia menyampaikan secara tegas, “Hari tasyrik mengajarkan kita dua hal utama: dzikir dan syukur.” Penekanan ini menjadi pengingat bahwa ibadah tidak berhenti pada ritual kurban, melainkan berlanjut dalam kesadaran spiritual sehari-hari.
Secara khusus, Ustadzah Luthfi memaparkan makna dzikir melalui akronim sederhana yang mudah dipahami masyarakat. Ia menjelaskan, “Dzikir bukan sekadar ucapan, tetapi juga pengingat untuk mendekatkan diri kepada Allah.” Akronim DZIKIR tersebut diuraikan menjadi enam nilai, yakni D – Dekat kepada Allah, Z – Zuhud, I – Ikhlas, K – Kumandang, I – Istiqomah, dan R – Ridha.
Makna “Dekat kepada Allah” diwujudkan melalui amalan seperti takbir, tahmid, tahlil, dan doa. Sementara “Zuhud” mengajarkan agar manusia tidak diperbudak oleh dunia. Nilai “Ikhlas” menekankan ketulusan dalam beribadah dan berkorban, sedangkan “Kumandang” mengajak umat untuk mengumandangkan takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah. Lebih lanjut, “Istiqomah” dimaknai sebagai konsistensi dalam ibadah meskipun sedikit, dan “Ridha” sebagai sikap menerima serta mencari keridaan Allah dalam setiap amal. Melalui penjabaran ini, zikir tidak lagi dimaknai sempit, tetapi menjadi panduan hidup yang menyeluruh dan aplikatif dalam keseharian.
Menjelang akhir siaran Mutiara Pagi RRI , Ustadzah Dr. Luthfi Ulfa Ni'amah, M.Kom.I yang juga memiliki jabatan Sekretaris Bidang Kaderisasi,Pendidikan dan Pelatihan MUI Kabupaten Madiun ini juga mengulas secara mendalam makna syukur melalui akronim yang sarat nilai kehidupan. Ia menjelaskan bahwa poin pertama dalam syukur adalah S yang berarti sabar dalam ketaatan. “S-nya adalah bagaimana kemudian kita sadar dalam ketaatan… sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar,” ujarnya. Menurutnya, keteladanan Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa kesabaran dalam menjalani ujian akan melahirkan kekuatan iman. Selain itu, poin Y dimaknai sebagai yakin, yakni keyakinan bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah. “Semua nikmat yang kita dapatkan itu awal mulanya dari Allah… jadi kita tidak boleh kemudian merasa memiliki," tegasnya.
Lebih lanjut, Ustadzah memaparkan bahwa syukur juga mencakup U sebagai ukhuwah, yaitu mempererat persaudaraan dan berbagi kebahagiaan, terutama di hari tasyrik. Sementara K berarti kendali, yakni kemampuan mengendalikan hati dari keluh kesah atas takdir Allah. “Jika kalian bersyukur maka aku akan tambahkan nikmat kepada kalian,” kutipnya. Adapun U berikutnya dimaknai utama, yakni mengutamakan Allah dalam segala aspek kehidupan, dan R berarti rahmat, sebagai harapan atas kasih sayang Allah yang meliputi segala sesuatu. Ia menegaskan, “Hari tasyrik ini adalah hari yang penuh dengan rahmat, kebahagiaan, dan juga keberkahan,” sekaligus mengingatkan bahwa zikir dan syukur menjadi kunci terbukanya rahmat Allah dalam kehidupan. Nilai syukur juga menjadi pesan penting dalam hari tasyrik. Syukur diwujudkan melalui penerimaan atas nikmat Allah serta refleksi dari ibadah kurban yang tidak hanya bermakna penyembelihan hewan, tetapi juga pengorbanan ego dan kecintaan dunia. Dengan demikian, hari tasyrik menjadi momen untuk memperdalam spiritualitas dan memperbaiki diri secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....