Pentingnya Lomba Bertutur bagi Literasi Anak Indonesia

  • 26 Mei 2026 15:24 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Di tengah derasnya arus media digital yang membuat anak semakin akrab dengan layar daripada cerita, lomba bertutur hadir sebagai ruang yang menghidupkan kembali tradisi lisan sekaligus menumbuhkan budaya literasi. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai daerah di Indonesia semakin aktif menyelenggarakan lomba bertutur, baik melalui perpustakaan daerah, sekolah, maupun komunitas literasi.

Fenomena ini bukan sekadar tren kegiatan anak, melainkan penanda bahwa masyarakat mulai menyadari pentingnya kemampuan bertutur sebagai bagian dari pendidikan literasi yang utuh. Selama ini, literasi sering dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis.

Padahal, literasi juga mencakup kemampuan memahami, mengolah, dan menyampaikan gagasan kepada orang lain. Dalam konteks inilah lomba bertutur memiliki peran penting.

Anak tidak hanya diminta menghafal cerita, tetapi juga memahami isi, emosi, pesan moral, dan cara menyampaikannya kepada pendengar. Kristophorus Divinanto Adi Yudono, M.Pd., Dosen Prodi Bahasa Indonesia UKWMS Kampus Madiun mengatakan Ketika seorang anak mampu mengisahkan kembali cerita rakyat atau kisah inspiratif dengan ekspresi yang hidup.

"Sesungguhnya ia sedang melatih kemampuan berpikir, berbahasa, sekaligus berkomunikasi. Namun, kadang-kadang kita tidak pernah mengamati sedetail itu," kata Kristo, Senin (25/5/2026).

Lomba bertutur juga menjadi jembatan antara budaya membaca dan keberanian berbicara. Banyak anak mampu membaca buku, tetapi belum tentu mampu menyampaikan kembali isi bacaan dengan runtut dan menarik.

Di sisi lain, Kristo menambahkan, ada pula anak yang sebenarnya memiliki daya imajinasi tinggi, namun kurang mendapatkan ruang untuk mengekspresikan diri.

"Melalui lomba bertutur, kemampuan tersebut dipertemukan. Anak belajar membaca secara mendalam, memahami karakter cerita, memilih diksi, mengatur intonasi, hingga membangun kepercayaan diri di depan publik. Semua proses itu merupakan bagian penting dari penguatan literasi yang sering kali tidak diperoleh melalui pembelajaran formal di kelas," tambahnya.

Lebih jauh lagi, lomba bertutur memiliki fungsi kultural yang sangat penting. Ketika anak mengikuti lomba bertutur, mereka bukan hanya sedang tampil di atas panggung, melainkan sedang merawat ingatan budaya bangsanya.

Cerita-cerita tentang keberanian, kejujuran, gotong royong, dan kebijaksanaan lokal diwariskan kembali melalui suara anak-anak. Dengan demikian, lomba bertutur tidak hanya membangun kemampuan individu, tetapi juga menjaga keberlanjutan identitas budaya Indonesia.

Kirsto menjelaskan bahwa keberhasilan lomba bertutur tidak dapat dibebankan kepada anak semata.

" Peran guru dan orang tua menjadi faktor yang sangat menentukan. Banyak anak sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi tidak percaya diri karena kurang mendapatkan dukungan lingkungan. Di sekolah, guru perlu melihat lomba bertutur bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan bagian dari pendidikan karakter dan literasi," jelas Kristo.

Di era ketika kemampuan komunikasi menjadi salah satu keterampilan utama abad ke-21, lomba bertutur merupakan investasi pendidikan yang sangat relevan. Anak-anak tidak cukup hanya menjadi pembaca yang baik; mereka juga perlu menjadi penyampai gagasan yang baik.

Kemampuan berbicara dengan jelas, percaya diri, dan berempati akan menjadi bekal penting dalam kehidupan sosial maupun akademik mereka di masa depan. Kegiatan ini bukan sekadar perlombaan seni berbicara, melainkan ruang pembentukan generasi literat yang mampu membaca, memahami, dan menghidupkan kembali cerita melalui tutur kata.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....