Mengasah Hati Nurani yang Tumpul

  • 24 Mei 2026 12:26 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID,Madiun - Seringkali dalam pergaulan sehari-hari istilah hati nurani dilontarkan bertujuan untuk mengetahui kepekaan hati seseorang terhadap orang lain. Anggapan ketika seseorang tidak memilik empati kepada orang lain diibaratkan telah memiliki hati nurani yang mati.

Menyoal tentang hati nurani, serta tumpulnya hati nurani menjadi tema yang dibahas dalam acara Mutiara Pagi Pro 1 RRI Madiun, Kamis (21/5/2026). Dalam dialog interaktif, Ustadz Prof. Dr. K.H. Sutoyo, M.Ag. menilai bahwa kondisi sosial saat ini menunjukkan banyak orang mulai kehilangan kepekaan terhadap kebaikan dan keadilan.

"Tandanya ya dengan sikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitar," ujarnya.

Ustadz Sutoyo menjelaskan bahwa hati nurani merupakan bagian terdalam manusia yang mendorong seseorang untuk membela kebenaran dan menolak kejahatan.

“Nurani adalah rasa yang paling dalam keikhlasan tumbuh dari dalam yang membela kebenaran atau menolak kejahatan,” kata Sutoyo.

Ia menegaskan bahwa setiap manusia sejatinya memiliki nurani, namun bisa menjadi tumpul jika tidak diasah. Menurutnya, salah satu ciri orang yang kehilangan nurani adalah hilangnya kepedulian sosial. Ia menyebutkan.

"Ada orang tidak peduli itu sama dengan tidak nurani. Maka orang yang punya nurani pasti punya kepedulian dalam hati," sebutnya.

Kondisi ini membuat seseorang cenderung melakukan kesalahan tanpa rasa bersalah, bahkan mencari pembenaran atas perbuatannya. Untuk mengasah hati nurani, Ustadz Sutoyo menekankan pentingnya ibadah, refleksi diri, dan empati terhadap sesama.

Mengasah nurani itu lanjutnya bisa dilakukan dengan ibadah, menjalan perintah agama secara konsisten. Mengasah nurani bisa dilakukan dengan merenung, melakukan refeleksi diri.

"Yang ketiga adalah melihat kesusahan orang lain, Sering melihat penderitaan orang lain dan membantu mereka yang membutuhkan," ucap Sutoyo.

Kebiasaan tersebut dinilai mampu mempertajam kepekaan batin seseorang terhadap nilai-nilai kebaikan. Selain itu, ia menambahkan bahwa aktivitas sederhana seperti membantu orang lain dan menjalankan ibadah sehari-hari secara konsisten juga berperan penting.

“Dengan kita salat lima waktu, kita berbuat baik, kita peduli orang lain itu tanpa sengaja itu sesungguhnya sudah mengasah nurani kita,” jelasnya.

Di akhir perbincangan, Ustadz Sutoyo mengingatkan bahwa empati menjadi indikator utama ketajaman hati nurani. Dengan demikian, menjaga dan menumbuhkan hati nurani menjadi kunci penting dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.

“Setiap kita melihat penderitaan orang lain muncul empati, itu menunjukkan bahwa nurani kita ini tajam,” terangnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....