Dilema Komoditas Kedelai di Magetan, Kebutuhan Tinggi Lahan Menyusut

  • 22 Mei 2026 21:27 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Keberadaan kedelai lokal di Kabupaten Magetan semakin sulit ditemukan di pasaran. Menurunnya luas tanam dan produksi petani dalam beberapa tahun terakhir membuat pelaku usaha tahu dan tempe kini semakin bergantung pada pasokan kedelai impor.

Kondisi tersebut sejalan dengan terus berkurangnya lahan tanam kedelai di Magetan. Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Magetan menunjukkan luas tanam kedelai pada 2025 tersisa sekitar 214 hektare yang tersebar di lima kecamatan, termasuk Kecamatan Barat dan Kartoharjo.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Magetan, Romandhon, menjelaskan penurunan produksi kedelai mulai terlihat sejak 2022 setelah program pengembangan palawija tidak lagi masuk dalam pembiayaan APBD.

Menurutnya, arah kebijakan pertanian saat ini lebih difokuskan pada peningkatan produksi padi untuk mendukung program swasembada pangan nasional. Salah satu upaya yang didorong yakni penerapan pola tanam IP 400 atau empat kali masa tanam dalam setahun.

“Program palawija seperti kedelai sudah tidak masuk kegiatan APBD sejak 2022. Fokus pemerintah sekarang percepatan swasembada pangan melalui tanaman padi,” katanya, , Kamis (21/5/2026).

Selain minim dukungan program, faktor ekonomi juga membuat petani mulai meninggalkan kedelai. Hasil panen yang relatif rendah dinilai tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh petani.

Dalam satu hektare lahan, produksi kedelai rata-rata hanya mencapai 1,6 hingga 2,6 ton. Sementara harga jual di tingkat petani beberapa tahun terakhir berkisar Rp7 ribu per kilogram.

“Kalau dibandingkan menanam padi, tentu petani lebih memilih padi karena hasilnya lebih menguntungkan. Harga gabah sekarang juga cukup bagus,” tambah Romandhon.

Selain kedelai, sebagian petani di Magetan masih menanam komoditas palawija lain seperti kacang hijau dan kacang tanah. Namun luas tanamnya terbatas dan umumnya hanya dilakukan sekali dalam setahun saat musim kemarau.

Di sejumlah pasar tradisional, stok kedelai lokal bahkan nyaris tidak tersedia. Pedagang lebih banyak menjual kedelai impor karena dinilai memiliki pasokan yang lebih stabil dan mudah diperoleh sepanjang tahun.

Salah satu pedagang kedelai di Pasar Sayur Magetan, Galih, mengaku sudah lama tidak menerima kiriman kedelai lokal dari petani. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit dan hanya muncul pada musim tertentu.

“Sekarang yang paling banyak dipakai ya kedelai impor. Harganya sekitar Rp11 ribu per kilogram, sebelumnya Rp10.200. Kalau kedelai lokal biasanya lebih mahal dan stoknya jarang,” ujarnya

Menurut Galih, kedelai lokal saat ini lebih banyak dimanfaatkan untuk bahan pembuatan kecambah atau tauge. Sementara industri tahu dan tempe memilih kedelai impor karena lebih mudah didapat serta pasokannya tersedia terus-menerus.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....