DKPP Kota Madiun Periksa Hewan Kurban di 36 Titik, Pastikan Kondisi Sehat dan Layak

  • 20 Mei 2026 23:50 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Kota Madiun - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun melakukan pemeriksaan terhadap hewan kurban menjelang Iduladha 2026. Pemeriksaan yang menyasar 36 lokasi peternakan dan penjualan hewan kurban di Kota Madiun tersebut, berlangsung selama tiga hari mulai Senin (18/5/2026) hingga Rabu (20/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, petugas menargetkan pemeriksaan terhadap sekitar 80 ekor sapi serta 900 ekor kambing dan domba. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan hewan dalam kondisi sehat dan layak atau memenuhi syarat syariat untuk kurban.

Salah satu lokasi yang diperiksa adalah Tapoz Farm yang berlokasi di Jalan Tawangsari, Kelurahan Tawangrejo, Kota Madiun. Di lokasi tersebut, sebanyak 15 ekor sapi dari berbagai jenis menjalani pemeriksaan intensif oleh tim DKPP Kota Madiun. Selain pemeriksaan fisik, beberapa sapi juga mendapatkan suntikan vitamin guna meningkatkan daya tahan tubuh.

Ketua Tim Kerja Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Kota Madiun drh. Margaretha Dian W mengatakan, pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kesehatan sekaligus kelayakan hewan kurban sesuai ketentuan. “Untuk pengecekan sesuai syarat hewan kurban, kami cek jenis kelamin, umur, dan kesehatan secara umum,” ujar dia.

Menurut Margaretha, hasil pemeriksaan di Tapoz Farm menunjukkan sebagian besar sapi dalam kondisi sehat. Namun, beberapa ekor memerlukan tambahan vitamin untuk menjaga ketahanan tubuh. “Tadi ada yang kami berikan suntikan vitamin, untuk meningkatkan daya tahan tubuh (sapi),” ujar dia.

Sementara itu, pemilik Tapoz Farm, Samsi mengatakan seluruh sapi di kandangnya dalam kondisi baik. “Alhamdulillah (sapi di sini) kondisi sehat, makan bagus, minum bagus, kondisi berdiri dan duduk juga baik,” kata dia. Saat ini terdapat 15 ekor sapi di kandangnya, yang terdiri dari jenis limosin, PO (peranakan ongole), dan simental.

Untuk harga, Samsi menjualnya dikisaran Rp22 juta hingga Rp39 juta. “Saya banyak bermainnya di harga rata-rata Rp23,5 juta hingga Rp24,5 juta. Kalau paling murah di sini sekitar Rp22 juta, sementara sapi termahal kisaran harga Rp38 juta hingga Rp39 juta, itu dengan bobot antara 750–800 kilogram,” ujar dia.

Menurut Samsi, permintaan hewan kurban tahun ini cukup baik. “Ada pelanggan lama yang datang (membeli) ada juga pembeli baru,” ujar dia. Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Samsi biasanya dapat menjual lebih dari 20 sapi lebih, selama masa Iduladha.

Pada tahun ini harga sapi juga cukup bagus dibanding Iduladha tahun lalu. “Harga sapi yang tahun lalu dijual Rp21 juta, sekarang bisa Rp24 juta. Ada kenaikan sekitar Rp2 juta sampai Rp3 juta,” ucap dia.

Kenaikan harga tersebut, Samsi menjelaskan, dipengaruhi dampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat menyerang ternak beberapa waktu lalu. “Kenaikan harga itu karena PMK, banyak peternak kecil yang sebelumnya punya satu sampai dua ekor sapi akhirnya menyerah dan beralih beternak kambing,” ujar dia.

Akibat kondisi itu, stok sapi di pasaran berkurang. Lebih lanjut, Samsi memperkirakan, kenaikan harga sapi juga disebabkan karena faktor inflasi dan harga bakalan sapi yang sudah naik sejak awal. “Saya ini kan fokus di penggemukan, beli bakalannya itu juga sudah mahal,” ujar dia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....