Cyber Grooming Marak di Era Digital, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kewaspadaan
- 19 Mei 2026 23:11 WIB
- Madiun
RRI.Co.ID, Madiun – Kejahatan siber berupa cyber grooming semakin marak terjadi di era digital saat ini. Kemudahan akses media sosial dan komunikasi online menjadi celah bagi pelaku untuk mendekati korban, khususnya anak-anak dan remaja.
Cyber grooming merupakan tindakan memanipulasi, membangun kepercayaan, dan mendekati anak-anak atau remaja secara online.
Pelaku biasanya berpura-pura menjadi teman sebaya atau sosok yang ramah dengan tujuan mengeksploitasi korban secara seksual, melakukan pemerasan, hingga perdagangan manusia.
“Cyber grooming marak di era sekarang ini karena ruang digital sangat luas dan mudah digunakan untuk bermedia sosial. Akses komunikasi menjadi sangat mudah. Ketika kita di media sosial secara individu membagikan sesuatu yang sifatnya privat atau pribadi, kita tidak sadar akan bahaya yang mengintai. Seperti tempat kerja, tempat tongkrongan, dan sebagainya yang bisa diakses oleh pelaku kejahatan siber,” ujar Robik Anwar Dani, psikolog sekaligus founder Psikologanak.id dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya saat menjadi narasumber acara Teman Cerita PRO 1 RRI Madiun, Selasa (19/5/2026).
Menurut Robik, semua orang sebenarnya berpotensi menjadi korban cyber grooming. Namun, terdapat beberapa kelompok yang lebih rentan menjadi sasaran pelaku.
“Semua orang berpotensi menjadi korban cyber grooming. Namun, ada beberapa kelompok yang paling rentan seperti perempuan, anak-anak dan remaja, orang dewasa yang kesepian, serta orang-orang yang aktif di media sosial,” ujarnya.
Dari sisi psikologis, korban cyber grooming umumnya menunjukkan perubahan perilaku dan emosi yang cukup signifikan. Tanda-tanda tersebut perlu menjadi perhatian keluarga maupun lingkungan sekitar.
“Tanda secara psikologis orang yang menjadi korban cyber grooming seperti mengalami perubahan emosi yang mendadak, merasa malu atau bersalah tanpa sebab, mulai menarik diri dari pergaulan dan keluarga, menyembunyikan sesuatu, hingga muncul ketergantungan pada komunikasi dengan pelaku kejahatan. Pada akhirnya korban akan mengalami overthinking,” tambahnya.
Robik juga menekankan, pentingnya pendekatan psikologis dan dukungan emosional kepada korban. Menurutnya, perhatian dan afeksi di dunia nyata menjadi langkah awal yang sangat penting dalam pencegahan maupun penanganan kasus cyber grooming.
“Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah memberikan perhatian dan afeksi di dunia nyata. Selanjutnya perlu digali informasi apakah memang ia menjadi korban cyber grooming atau tidak,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial, tidak sembarangan membagikan data pribadi, serta meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas digital anak dan remaja guna mencegah terjadinya kejahatan cyber grooming.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....