Gencarkan Edukasi, Pemkab Magetan Targetkan Nol Kematian Ibu Melahirkan pada 2026

  • 19 Mei 2026 13:58 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Pemerintah Kabupaten Magetan, Jawa Timur melalui Dinas Kesehatan setempat menggelar workshop kesehatan ibu hamil di Indoor Baru Trangkil, Desa Temboro, Kecamatan Karas, Selasa (19/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan terhadap program nasional Gerakan Bumil Sehat yang digagas Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi serta menekan angka kematian ibu dan bayi.

Desa Temboro dipilih sebagai lokasi kegiatan karena tercatat memiliki jumlah ibu hamil tertinggi di wilayah tersebut. Selain itu, tren ibu hamil dengan risiko tinggi dalam tiga tahun terakhir juga menunjukkan peningkatan, sehingga diperlukan intervensi melalui edukasi langsung kepada masyarakat.

Bupati Magetan Nanik Sumantri, menegaskan pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin sebagai langkah pencegahan risiko komplikasi saat persalinan.

“Selama kehamilan, ibu hamil minimal harus melakukan pemeriksaan sebanyak enam kali dan menjalani USG dua kali. Pemeriksaan bisa dilakukan di posyandu desa, pustu, maupun sarana kesehatan lain yang tersedia di lingkungan masing-masing,” ujar Nanik.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan, Rokhmat Hidayat, mengatakan kegiatan tersebut menyasar para ibu hamil beserta suami agar memahami pentingnya pendampingan selama masa kehamilan hingga pasca persalinan.

Menurut Rokhmat, komplikasi yang paling sering ditemukan pada ibu hamil di Magetan adalah hipertensi dan pendarahan. Kedua kondisi tersebut menjadi faktor utama yang berisiko menyebabkan kematian ibu jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.

“Hipertensi pada ibu hamil cukup banyak kami jumpai dan dapat memicu komplikasi seperti kejang saat kehamilan. Selain itu, pendarahan pasca persalinan juga menjadi ancaman serius. Karena itu, kesiapan harus dimulai sejak sebelum hamil, selama kehamilan, hingga proses persalinan, salah satunya dengan rutin mengonsumsi tablet tambah darah,” kata Rokhmat.

Ia menambahkan, peran keluarga dan lingkungan sekitar sangat penting dalam menjaga keselamatan ibu hamil. Untuk itu, Dinas Kesehatan menggaungkan gerakan SIJAMIL (Awasi dan Jaga Ibu Hamil), yang mendorong suami, keluarga inti, dan masyarakat sekitar untuk aktif memantau kondisi ibu hamil.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, pada 2025 terdapat sembilan kasus kematian ibu di Magetan. Sebagian besar kasus terjadi bukan saat proses persalinan, melainkan pada masa nifas atau hingga 42 hari setelah melahirkan.

“Banyak keluarga yang belum memahami tanda bahaya kehamilan, persalinan, maupun masa nifas. Padahal justru hampir lebih dari 50 persen kematian ibu tahun lalu terjadi saat masa nifas. Ini yang perlu menjadi perhatian bersama,” jelasnya.

Hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan mencatat belum ada kasus kematian ibu di Magetan. Pemerintah daerah pun menargetkan capaian nol kematian ibu hingga akhir tahun.

Melalui workshop tersebut, Pemkab Magetan berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan ibu hamil semakin meningkat, sehingga setiap ibu dapat menjalani kehamilan dengan aman, melahirkan bayi sehat, dan menekan risiko stunting sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....