Harga Telur Anjlok, Ini Respon Asosiasi Peternak Telur Ponorogo

  • 18 Mei 2026 18:35 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Ponorogo - Asosiasi atau perkumpulan peternak ayam petelur Ponorogo (PPAPP) meminta ada intervensi dari pemerintah menyikapi anjloknya harga telur di tingkat peternak. Salah satunya dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) dapat bekerjasama dengan peternak ayam petelur guna menyerap telur untuk program makan bergizi gratis (MBG).

Eny Kustianingsih, Ketua PPAPP mengatakan, jika program MBG itu menggunakan telur setidaknya 2 kali dalam seminggu, maka telur yang ada bisa terserap maksimal. Harga jual di tingkat peternak pun juga tidak kelewat anjlok.

"Seharusnya dengan adanya permintaan telur yang lemah, pemerintah mengambil kebijakan di mana dapur SPPG itu minimal 2 kali dalam seminggu bisa menyerap telur, pengambilan bisa di koperasi atau Asosiasi, biar penyebaran telurnya merata, karena kasusnya sekarang sebagian kurang, sebagian ada yang menumpuk," ujarnya, Senin (18/5/2026).

"Ke depan untuk pemerintah sebaiknya menjadi wasit yang adil dan memberi solusi. Saat harga telur turun jangan dibiarkan, saat harga naik ya kita jangan ditekan. Jangan sampai telur menumpuk terlalu lama karena sangat merugikan," tambahnya.

Ia tak memungkiri, populasi peternak ayam petelur di Ponorogo saat ini cukup banyak. Namun perputaran telurnya yang kini menjadi kendala.

Stok telur melimpah, sedangkan permintaan berkurang. Akibatnya harga di tingkat peternak turun drastis.

Harga acuan dari peternak, telur ayam ras dibandrol Rp22.800 per kg di kandang. Namun praktiknya karena stoknya melimpah, harga telur dari peternak hanya Rp20 ribu hingga Rp21 ribu per kg.

Harga itu diakui Eny tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan peternak untuk membeli pakan ayam. Termasuk harga jagung di pasaran yang saat ini mengalami kenaikan.

"Untungnya ada bantuan SPHP jagung dari pemerintah, tapi kan nggak semua peternak dapat," jelasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....