Fenomena Overstimulasi Anak Meningkat, Orang Tua Perlu Waspada
- 05 Mei 2026 23:02 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran orang tua terhadap pentingnya stimulasi bagi tumbuh kembang anak semakin meningkat. Berbagai aktivitas seperti les membaca, berenang, hingga pengenalan teknologi digital sejak usia dini kini menjadi hal yang umum dilakukan. Namun di balik niat baik tersebut, muncul fenomena yang kerap luput dari perhatian, yakni kondisi overstimulasi pada anak.
Overstimulasi adalah kondisi ketika anak menerima rangsangan yang melebihi kapasitasnya untuk diproses. Alih-alih memberikan dampak positif, stimulasi berlebihan justru dapat memicu berbagai perilaku yang tidak biasa. Menurut Robik Anwar Dani, M.Psi., seorang psikolog sekaligus Founder Psikologianak.id dan dosen psikologi di UKWMS, fenomena ini semakin sering ditemukan di tengah pola asuh modern.
“Sekarang banyak sekali orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dibanding orang tua zaman dulu, saat ini banyak anak diikutkan les renang, les baca tulis, hingga les teknologi digital. Sebenarnya tidak salah, tetapi kadang-kadang muncul perilaku-perilaku yang tidak biasa pada anak seperti tantrum dan sebagainya. Nah, mungkin ini tanda-tanda anak mengalami overstimulasi,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam program Teman Cerita di PRO 1 RRI Madiun, Selasa 5 Mei 2026.
Ia menjelaskan bahwa anak memiliki batas kemampuan dalam menerima dan mengolah informasi. Ketika rangsangan datang secara terus-menerus tanpa jeda yang cukup, anak bisa merasa kewalahan. Kondisi ini dapat ditandai dengan mudah marah, sulit fokus, kelelahan emosional, hingga gangguan tidur.
Para ahli mengingatkan bahwa stimulasi tetap penting, namun harus disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Memberikan waktu istirahat, bermain bebas, serta interaksi yang hangat tanpa tekanan menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan perkembangan anak.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa dalam mendidik anak, kualitas interaksi seringkali lebih penting daripada kuantitas aktivitas. Orang tua diharapkan dapat lebih peka terhadap sinyal yang ditunjukkan anak, agar proses tumbuh kembang berjalan optimal tanpa beban berlebih.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....