Harga Plastik Naik, Pedagang Makanan di Madiun Sesuaikan Porsi Jualan

  • 05 Apr 2026 12:29 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Kenaikan harga plastik turut dirasakan pedagang di kawasan Pasar Besar Kota Madiun. Salah satunya pedagang siomay dan batagor, Mila.

Mila mengaku, meski harga plastik melonjak, ia tetap membeli untuk kebutuhan usahanya karena belum ada alternatif pengganti untuk kemasan produknya.

"Namanya juga kebutuhan, ya tetap beli. Mau diganti yang lain juga tidak bisa. Apalagi saya jual siomay, itu kan barang kering, tapi sambalnya basah jadi tetap memerlukan plastik,” tuturnya, Rabu (2/4/2026).

Ia menyebutkan, kenaikan harga plastik turut mempengaruhi omzet hariannya. Meski demikian, Mila tidak menaikkan harga jual produknya. Ia memilih menyiasati dengan menyesuaikan porsi agar tetap memperoleh keuntungan.

“Porsi saya kan banyak, jadi tidak dikurangi sedikit-sedikit banget. Saya normalkan saja jadi standar,” tambahnya.

Mila berharap harga plastik dapat kembali normal agar aktivitas usahanya dapat berjalan lancar.

Harapan serupa juga disampaikan Agus, pengelola toko plastik di kawasan yang sama. Ia menyebutkan, kenaikan harga plastik mulai terjadi sebelum lebaran. Kenaikan harga terjadi secara bertahap mulai dari 10–15 persen, kemudian meningkat hingga mendekati 100 persen.

Agus menyampaikan harga sejumlah produk plastik meroket, seperti cup gelas ukuran partai dari harga Rp260 ribu menjadi Rp450 ribu. Sementara untuk kantong kresek dari harga sekitar Rp8.500 menjadi Rp16 ribu per pak.

Ia mengaku permintaan tetap ada, namun jumlahnya menurun. Selain itu, kenaikan harga plastik juga memicu reaksi dari pembeli.

“Permintaan tetap ada. Tapi memang menurun. Yang dulunya sanggup beli 10, sekarang mungkin separuhnya, jadi 5. Pembeli pasti mengeluh karena memang imbasnya luar biasa. Terutama yang bisnis kuliner packaging-nya cukup banyak. Itu pasti berpengaruh pada harga jual mereka juga,” ucap Agus.

Agus menambahkan, keterbatasan pasokan juga menjadi kendala. Permintaan barang dalam jumlah besar tidak selalu dapat dipenuhi karena pengiriman dari pemasok terbatas.

“Rata-rata susah. Biasanya kami minta 10, yang dikirim hanya 3 atau 5 karena keterbatasan,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Madiun, Harum Kusumawati melalui keterangan tertulis menyampaikan berdasarkan keterangan Kementerian Perdagangan, bahan baku plastik sebagian besar masih berasal dari impor berbasis minyak bumi. Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah menyebabkan suplai bahan baku tersebut tersendat.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk mulai membudayakan penggunaan tas belanja ramah lingkungan saat berbelanja. Selain dapat menghemat pengeluaran karena mengurangi kebutuhan kantong plastik, langkah tersebut juga menjadi upaya untuk menekan jumlah sampah plastik di Kota Madiun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....