Hari ini Cuaca Panas Apakah karena Fenomena Astronomi, EQUINOX?

  • 20 Mar 2026 21:25 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (MBKG) Nganjuk mereilis, equinox adalah fenomena astronomi yang terjadi ketika Matahari berada tepat di atas Khatulistiwa Bumi. Fenomena ini terjadi karena kemiringan sumbu Bumi sekitar 23,5 derajat terhadap bidang orbitnya mengelilingi Matahari. Saat ekuinoks, posisi sumbu ini tidak condong ke arah atau menjauhi Matahari, sehingga penyinaran menjadi lebih seimbang. Karena Matahari berada di tepat di garis ekuator, sehingga lintasannya simetris terhadap bumi sehingga matahari akan terbit hampir tepat di timur lebih cepat 2 menit 16 detik dan terbenam di barat lebih lambat 2 menit 16 detik. Peristiwa ini menyebabkan durasi siang dan malam hampir sama di seluruh dunia termasuk di wilayah Indonesia. Namun, durasinya sebenarnya tidak benar-benar identik, malam hari akan berlangsung 11 jam 55,5 menit sedangkan siang 12 jam 4,5 menit. Hal ini dipengaruhi oleh pembiasan cahaya di atmosfer serta bentuk Matahari yang terlihat sebagai cakram. Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Nganjuk Setiyaris mengungkapkan, equinox terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada sekitar 20-21 Maret (Equinox Maret) yang menandai awal musim semi di belahan Bumi utara dan musim gugur di belahan Bumi selatan. Kemudian 22-23 September (Equinox September) yang menandai awal musim gugur di belahan Bumi utara dan musim semi di belahan Bumi selatan. Meski tidak mengalami pergantian musim seperti negara subtropis, Indonesia tetap merasakan dampaknya. Saat Matahari berada tepat di atas ekuator, sinar Matahari hampir tegak lurus mengenai wilayah ekuator sehingga radiasi yang diterima permukaan menjadi lebih maksimal.

“Saat equinox matahari dan bumi berada pada jarak yang paling dekat, akibatnya, suhu udara bisa terasa lebih panas, apalagi jika didukung kondisi langit cerah dan minim tutupan awan. Meski Equinox bukan penyebab langsung kenaikan suhu akan tetapi perubahan posisi Matahari dapat memengaruhi pola cuaca seperti angin dan pergeseran musim yang mengakibatkan peningkatan suhu di beberapa wilayah,” jelas Setiyaris, 20 Maret 2026.

Menurutny, equinox tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis dan juga equinox bukan merupakan fenomena seperti HeatWave yang terjadi di Afrika dan Timur Tengah yang dapat mengakibatkan peningkatan suhu udara secara besar dan bertahan lama. BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak berlebihan mengkhawatirkan dampak dari equinox. Secara umum saat ini cuaca di wilayah Indonesia cenderung masih lembab/basah karena memasuki musim pancaroba. Dihimbau masyarakat tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan tetap menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan. (Shabrina).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....