Februari 2026, Cabai Rawit Dominan Sumbang Inflasi di Kota Madiun
- 03 Mar 2026 08:53 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun mencatat inflasi bulanan (month-to-month) pada Februari 2026 mencapai 0,74 persen. Angka tersebut merupakan yang tertinggi pada bulan yang sama dalam tiga tahun terakhir.
Diketahui, inflasi bulanan pada Februari 2024 tercatat sebesar 0,59 persen. Sementara Februari 2025 justru mengalami deflasi sebesar 0,78 persen.
Kepala BPS Kota Madiun, Abdul Azis, menyampaikan inflasi bulanan pada Februari 2026 dipicu oleh kenaikan harga kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,24 persen, yang memberikan andil inflasi 0,62 persen. Diikuti oleh kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya yang juga naik sebesar 0,98 persen dan memberi andil inflasi 0,05 persen.
Komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi bulanan Februari 2026 di Kota Madiun adalah cabai rawit yang naik sebesar 56,84 persen dan memberi andil inflasi 0,24 persen.
Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas lainnya, seperti daging ayam ras (9,47 persen), telur ayam ras (5,41 persen), emas perhiasan (8,36 persen), bawang merah (11,30 persen), mobil (3,62 persen), beras (0,40 persen), air kemasan (0,99 persen), cabai merah (26,10 persen), dan sigaret kretek mesin (0,94 persen).
Azis menjelaskan, kenaikan harga cabai rawit dipengaruhi kondisi cuaca. "Kenaikan harga cabai rawit dipengaruhi anomali cuaca. Curah hujan menengah hingga tinggi di Jawa Timur pada pertengahan Februari 2026 memengaruhi produktivitas hortikultura serta produksi daging dan telur ayam," jelasnya.
Selain faktor produksi yang memengaruhi cabai rawit, Azis menambahkan permintaan yang relatif tinggi terhadap kelompok makanan dan minuman selama bulan Ramadan turut mendorong kenaikan harga. Menurutnya, meskipun masyarakat berpuasa di siang hari, aktivitas makan dan minum di sore dan malam hari justru meningkat. Hal tersebut terlihat dari banyaknya takjil yang dijual.
"Tentunya ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap komoditas makanan khususnya makan minum itu cukup tinggi. Maka karena permintaan tinggi harga juga mengalami kenaikan. Apalagi didukung oleh kondisi cuaca yang kurang bagus. Sudah cuaca kurang bagus menurunkan produksinya, permintaan juga mengalami kenaikan. Akhirnya harga juga semakin tinggi," tambahnya.
Sebagai langkah antisipasi, Azis pun merekomendasikan Pemerintah Kota Madiun melakukan pengendalian harga melalui gerakan pasar murah (GPM) dan operasi pasar yang tidak anya menyasar bahan pokok, tapi juga komoditas lain seperti bawang merah dan cabai rawit.
"Selama ini kan operasi pasar untuk komoditas beras, minyak goreng, telur. Ditambah lah semakin banyak komoditas-komoditas yang lainnya misalnya bawang merah atau cabai rawit." pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....