Pikat WNA, Kawista Winongo Madiun Kenalkan Pengolahan Sampah Lewat Program Worldpacker

  • 15 Jan 2026 08:43 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Program Worldpacker yang digagas Kelurahan Wisata dan Budaya (Kawista) Kenongo Sehati, Kelurahan Winongo, Kota Madiun, semakin dikenal di kalangan relawan internasional. Program wisata budaya berbasis masyarakat ini menawarkan pengalaman belajar kepada relawan yang menyatu dengan kehidupan masyarakat setempat.

Plt. Lurah Winongo, Dian Puspita, menjelaskan program Worldpacker menyediakan tiga pilihan kegiatan bagi relawan asing, meliputi pengelolaan bank sampah, membatik, dan kegiatan Kampung Inggris. Salah satu relawan asal Australia, Niko, memilih kegiatan pengelolaan sampah di Bank Sampah Matahari Winongo.

Menurut Dian, pilihan tersebut tidak lepas dari peran Bank Sampah Matahari sebagai pionir pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kelurahan Winongo. Di bank sampah ini, sampah anorganik diolah menjadi berbagai barang bernilai guna.

“Di sini Niko memilih kegiatan di bank sampah karena peran bank sampah di Kelurahan Winongo yang ditangani oleh Bu Siam, yakni Bank Sampah Matahari, merupakan pionir. Sehingga dia sangat tertarik dengan kegiatan yang ada di Bank Sampah Matahari,” jelas Dian, Rabu 14 Januari 2026.

"Bu Siam bisa memproduksi atau mengolah sampah anorganik yang dibuat sapu, asbak, kemudian dari minyak jelantah. Banyak sekali yang bisa dimanfaatkan sama Bu Siam yang juga seorang pionir. Di kelurahan mana saja belajar di Bank Sampah Matahari," lanjut Dian.

Selain mengikuti kegiatan edukasi di bank sampah, relawan asing juga diajak untuk hidup membaur dengan masyarakat Kelurahan Winongo. Mereka tinggal dan makan di rumah warga sebagai bagian dari konsep pembelajaran berbasis komunitas yang diterapkan Kawista.

Direktur Utama Induk Bank Sampah Kota Madiun, Siyam Sumartini, mengatakan relawan diperkenalkan pada sistem bank sampah dan praktik pengolahan sampah melalui guna ulang dan daur ulang secara manual. Materi yang diberikan meliputi pembuatan tas dari kresek, sapu dari botol plastik, hingga pembuatan pupuk organik cair.

“Melalui kegiatan ini kami menunjukkan bagaimana partisipasi masyarakat Winongo yang terdampak TPA ikut berperan mengolah dan mengurangi sampah,” ujar Siyam.

Program Kawista di Kelurahan Winongo telah berjalan selama dua tahun. Mulai tahun ini, relawan yang mengikuti program Worldpacker dikenai biaya kontribusi sebesar lima dolar AS per hari. Ke depan, Kelurahan Winongo melalui Pemerintah Kota Madiun berencana melakukan kolaborasi dengan PT KAI dan pihak perhotelan sebagai upaya inovasi mengembangkan Kawista Kenogo Sehati di Kelurahan Winongo. (UF).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....