Dinkes Kota Madiun Libatkan Lintas Sektor Tangani Stunting
- 19 Nov 2025 16:02 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : Upaya percepatan penurunan stunting di Kota Madiun tidak hanya mengandalkan intervensi kesehatan, tetapi juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk dan KB Kota Madiun, Denik Wuryani, saat menghadiri Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di Kantor Kecamatan Kartoharjo, Selasa (18/11/2025).
Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan, stunting merupakan kondisi tinggi badan anak yang lebih rendah dari rata-rata usianya akibat kekurangan nutrisi jangka panjang.
Denik menjelaskan bahwa penyebab stunting tidak selalu berasal dari faktor kesehatan saja. Menurutnya, kondisi lingkungan hingga pola asuh anak juga dapat memengaruhi tumbuh kembang sehingga memerlukan penanganan yang lebih komprehensif.
“Kalau karena penyakit kita tangani, kita obati sesuai penyakitnya. Kalau karena pola asuh, ada tim pendamping keluarga yang hari ini kita datangkan untuk mendampingi mereka. Orang tua, bagaimana cara memasak yang benar, mengolah makanan yang benar dan menyajikan kepada anak-anak,” jelasnya.
“Kemudian kalau itu karena lingkungan, misalnya karena rumahnya yang lembap sehingga anak-anak gampang sakit dan sebagainya, kita akan melakukan koordinasi OPD lintas sektor seperti Perkim, Baznas, dan sebagainya,” lanjutnya.
Ia menyampaikan bahwa jumlah anak yang masuk kategori stunting di Kota Madiun per Agustus 2025 sebanyak 393 anak. Data tersebut akan diperbarui sesuai arahan Wali Kota Madiun, Maidi, yang meminta pendataan kasus stunting agar lebih rinci dari tingkat usia hingga sebaran per kelurahan.
Untuk memastikan pendataan akurat, Denik meminta kader posyandu melakukan penelusuran bagi anak yang tidak hadir ke posyandu dengan cara kunjungan rumah. Langkah ini diperlukan agar potensi stunting dapat terdeteksi lebih cepat.
“Ketika misal ada anak yang sakit dan tidak datang ke posyandu maka akan dilakukan kunjungan rumah oleh kader. Sehingga tahu potensi siapa saja anak yang berkemungkinan masuk pada kondisi stunting,” tuturnya.
Denik pun berharap zero stunting tidak dimaknai sebagai hilangnya seluruh kasus, melainkan tidak ada kasus stunting baru di Kota Madiun. Untuk mencapai target tersebut, pencegahan dilakukan melalui pendampingan berkelanjutan mulai dari calon pengantin hingga ibu hamil. (UF).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....