Legenda Sendang Tawun di Dongeng Mbah Barkah

  • 03 Feb 2025 12:34 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Di Kabupaten Ngawi Jawa Timur ada sebuah obyek wisata pemandian Tawun. Terletak di Desa Tawun Kec. Kasreman Kab. Ngawi sekitar 7 Km dari pusat kota ke arah timur, yang sebagian besar penduduknya adalah petani

Konon pemandian menyimpan sebuah legenda.

Legenda Sendang Tawun hadir di acara Dongeng Mbah Barkah Pro 1 RRI Madiun Minggu ( 2/2 )

Kisah berawal pada abad 15. Ki Ageng Tawun (biasa juga di sebut Ki Ageng Mentaun) menemukan Sendang ( Mata Air) yang kemudian diberi nama Sendang Tawun dan Ki Ageng Tawun kemudian menetap di sana dan dikaruniai 2 orang anak yaitu Raden Lodrojoyo dan Raden Hascaryo.

Sementara kedua putranya mempunyai kegemaran yang berbeda. Raden Lodrojoyo lebih suka bertani. Sedang Raden Hascaryo lebih condong belajar ilmu Kanuragan (Ilmu Olah Perang) dan berguru pada Raden Sinorowito, putra Kesultanan Pajang, yang kala itu kebetulan sedang berkelana bersama Ki Ageng Tawun dan menetap bersama keluarganya.

Berkat keuletan olah keprajuritan, Sultan Pajang berkenan menjadikan Raden Hascaryo sebagai senopati perang (Panglima). Bagaimanapun, Ki Ageng Tawun akhirnya gamang hatinya, dan memberikan pusaka andalannya yang berupa selendang yang diberi nama Kyai CINDE sebagai bekal dalam pergumulan perang antara Pajang dan Kerajaan Blambangan.

Kembali pada kesederhanaan hidup Raden Lodrojoyo, yang selalu dekat dengan rakyat kecil. Keinginan kuatnya hanya satu, yakni bagaimana caranya agar Mata Air (Sendang) Tawun yang tak pernah surut airnya meski kemarau panjang ini bisa mengalir di areal persawahan. Karena hanya dengan cara itu, maka kebutuhan air di musim kemarau bisa tercukupi.

Suatu hari yang jatuh pada hari Jum’at Legi pukul 7 malam, dengan memohon ijin Ramandanya, Raden Lodrojoyo, bertekat bulat melakukan Semedi, dengan menjalani TAPA KUNGKUM (Berdo’a sambil merendamkan diri di air), memohon petunjuk pada Tuhan yang Maha Esa agar diberi kemudahan untuk membantu warganya yang kebanyakan kaum petani.

Dan tengah malam, warga dikagetkan dengan suara ledakan yang menggelegar. Berbondong-bondonglah penduduk berhamburan keluar menuju tempat ledakan berasal. Dan terbelalaklah pandangan mereka, begitu mengetahui Sendang Tawun telah pindah tempat kesebelah utara dengan posisi lebih tinggi dari areal persawahan warga sehingga air mengalir deras menuju persawahan warga.

Namun, keberadaan Raden Lodrojoyo tidak ditemukan. Pencarian dilakukan warga hingga menginjak Hari Selasa Kliwon dan meski sumber mata air dikuras sampai habis, jasadnya tak pernah ditemukan. Dan Untuk mengenang kejadian tersebut, hingga kini di Taman Wisata Tawun selalu diadakan Ritual Adat Bersih Sendang (DUK BEJI) yang selalu tepat mengambil hari Selasa Kliwon dalam setahun sekali

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....