Waspada! 4 Golongan Ini Terhalang dari Kemuliaan Malam Lailatul Qadar

  • 16 Mar 2026 15:12 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun : Memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, umat Muslim di seluruh dunia kian gencar menghidupkan malam-malam ganjil demi meraih Lailatul Qadar.

Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini menjadi momentum emas untuk meraih ampunan dan rahmat Allah SWT. Namun, ternyata tidak semua orang bisa merasakan kemuliaan malam tersebut. Ada golongan tertentu yang justru terhalang dari ampunan Allah meskipun Lailatul Qadar sedang turun.

Ustadz Shofar, S.Pd.I, SM., dalam program Mutiara Pagi RRI Madiun,Sabtu 14 Maret 2026 menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW senantiasa membangunkan keluarganya dan meningkatkan ibadah secara maksimal di akhir Ramadan.

Beliau menegaskan bahwa Lailatul Qadar adalah saat di mana Allah memandang hamba-Nya dengan penuh kasih sayang. Namun, merujuk pada hadis riwayat Imam Al-Baihaqi, terdapat empat golongan yang terkunci dari ampunan-Nya pada malam istimewa tersebut.

Golongan pertama adalah Mudminu Khamrin, yaitu orang yang belum bertaubat dari kebiasaan meminum khamar atau minuman keras. Ustadz Shofar mengingatkan bahwa khamar adalah induk dari segala keburukan (ummul khabaits).

"Ketika seseorang meminum khamar, akalnya rusak, sehingga dosa-dosa besar lain seperti perzinaan atau pembunuhan bisa dengan mudah terjadi. Jika hingga akhir Ramadan ia belum berhenti, maka ia akan kehilangan rahmat Lailatul Qadar," ujarnya.

Penghalang kedua yang tidak kalah berat adalah Aqul Walidain atau anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Bakti kepada orang tua merupakan penentu diterima atau tidaknya ibadah lain.

Ustadz Shofar menekankan bahwa ratusan rakaat shalat atau sedekah yang melimpah akan terasa sia-sia jika hati orang tua masih tersakiti. Ketulusan hati untuk mencintai dan meminta maaf kepada ayah dan ibu adalah kunci utama agar pintu ampunan Allah terbuka di malam kemuliaan.

Selanjutnya, golongan ketiga adalah Qatiur Rahim, yakni orang yang memutuskan tali silaturahmi. Seringkali hubungan persaudaraan rusak hanya karena urusan dunia yang sementara atau ego harga diri yang terlalu tinggi.

Ustadz Shofar mengajak jamaah untuk merenung, "Ego seperti apa yang kita pertahankan sehingga kita rela tidak mendapatkan ampunan Allah pada malam di mana Allah mengampuni semua hamba-Nya?". Memasuki malam-malam akhir Ramadan, sudah sepatutnya hati dibersihkan dari permusuhan.

Terakhir adalah Al-Musyahin, yaitu orang yang masih menyimpan dendam dan kebencian di dalam hatinya. Berbeda dengan pemutus silaturahmi, golongan ini mungkin masih bertegur sapa secara lahiriah, namun hatinya tetap panas dan benci.

Ustadz Shofar menutup pesannya dengan ajakan untuk memaafkan.

"Benci itu menyengsarakan dan seperti neraka, sedangkan cinta adalah surga. Dengan memaafkan, kita akan mendapatkan ketenangan dan yang terpenting, tidak terhalang dari kemuliaan Lailatul Qadar," pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....