Ramadhan Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
- 04 Mar 2026 15:33 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Program kajian islami Mutiara Pagi Programa 1 RRI Madiun kembali menyapa pendengar dengan tema Ramadhan Melatih Sabar, Memperkuat Syukur pada hari Minggu, 1 Maret 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Santoso, S.Ag., MM sebagai narasumber menegaskan bahwa inti dari ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi memahami makna terdalam dari kesabaran dan rasa syukur.
Menurut beliau, sejak sahur hingga berbuka, umat Islam dilatih untuk mengendalikan diri dari berbagai dorongan nafsu. “Jadi intinya ibadah itu adalah memahami arti daripada puasa itu. Kalau kita mulai paham tentang puasa dari sahur sampai berbuka, di situ dituntut kesabaran yang tinggi. Karena banyak sekali tantangan dari nafsu,” ungkap Ustadz Santoso.
Ia memaparkan bahwa rasa lapar dan haus bukan hanya ujian fisik, tetapi juga ujian emosi dan keinginan. “Karena lapar dan haus, nafsu amarah timbul. Nafsu-nafsu lain juga muncul, ingin memiliki sesuatu yang bukan miliknya. Ini dituntut seutuhnya bagi orang yang berpuasa untuk bersabar,” ujarnya.
Dalam kajian tersebut, beliau mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, ‘Wasta’inu bissabri was shalah’, yang berarti memohon pertolongan Allah dengan sabar dan salat. “Bersabar adalah solusi yang sangat penting untuk mendapat pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala.
Salat itu binaan diri supaya menghasilkan sabar yang murni, ikhlas lillahi ta’ala,” terangnya.
Ustadz Santoso juga menyoroti fenomena semangat ibadah yang menurun di pertengahan Ramadhan. Masjid yang awalnya penuh, perlahan berkurang jamaahnya.
“Ini membuktikan kesabaran dalam diri kita belum ada kesempurnaannya,” katanya.
Beliau mengingatkan bahwa kurangnya kesabaran bisa berdampak luas, mulai dari konflik dalam keluarga hingga penyimpangan seperti korupsi. “Tidak sabar dengan rezeki yang dimiliki, maka terjadilah korupsi. Tidak sabar dalam keluarga bisa terjadi pertengkaran. Faktor utamanya adalah kurangnya kesabaran,” tegasnya.
Ia menambahkan dengan mengutip firman Allah, ‘Innallaha ma‘ash shabirin’ sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
“Kesabaran itu adalah kebersamaan kita dengan Allah. Di manapun dan siapapun kita, kita membutuhkan kesabaran. Maka kesabaran ini dilatih oleh Allah dalam bulan Ramadhan,” ungkapnya.
Selain melatih sabar, Ramadhan juga memperkuat rasa syukur. Rasa lapar dan haus menjadi pelajaran sosial agar umat Islam merasakan penderitaan saudara-saudara yang kekurangan. “Rasa haus ini merupakan ilmu sosial. Kita merasakan bagaimana saudara kita yang mungkin sehari hanya makan sekali, bahkan tidak makan. Maka kita bersyukur sedalam-dalamnya kepada Allah,” tutur beliau.
Ia menggambarkan kontras kehidupan antara mereka yang berkecukupan dan yang serba terbatas. “Kita punya hidangan bermacam-macam di meja makan. Bagaimana saudara kita yang hanya nasi dengan garam atau daun-daunan? Di sinilah timbul rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala,” katanya.
Rasa syukur, lanjutnya, bukan hanya diucapkan, tetapi dihayati dalam setiap keadaan, saat masih diberi kesehatan, pekerjaan, dan kesempatan hidup.
“Ada teman kita yang sudah wafat, kita masih muda dan sehat. Ada yang sakit tak bisa bangun, kita masih bisa bekerja dan bersama keluarga. Di sinilah harus ada syukur yang luar biasa,” pesannya.
Ustadz Santoso menegaskan bahwa ketika sabar dan syukur telah tertanam, akan tumbuh keinginan tulus untuk berbagi. “Maka datanglah perasaan ingin membantu, menyantuni fakir miskin dan yatim piatu. Ini artinya syukur kita sudah sampai ke dasar keikhlasan,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....