Benarkah Puasa Tidak Hanya Sekedar Berpatokan Adzan?
- 28 Feb 2026 13:41 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Perbincangan mengenai waktu mulai dan berakhirnya puasa kembali menjadi perhatian masyarakat, terutama menjelang Ramadan. Banyak umat Islam yang masih menjadikan bunyi adzan sebagai patokan utama dimulainya puasa.
Namun, hal tersebut sejatinya perlu dipahami secara lebih tepat. Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Surabaya, KH. Abdul Wahid Al Faizin, menegaskan bahwa waktu puasa tidak bergantung pada adzan, melainkan pada ketentuan waktu syar’i yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam.
“Puasa dimulai sejak terbit fajar shadiq, bukan sejak adzan Subuh dikumandangkan. Adzan hanyalah penanda masuknya waktu salat. Jika adzan dikumandangkan tepat waktu, maka itu sejalan. Namun yang menjadi dasar tetaplah terbitnya fajar,” jelasnya, Rabu (25/2/2026) dalam kajian Ramadhan ASN secara online.
Menurutnya dalam praktiknya di Indonesia, adzan Subuh umumnya sudah disesuaikan dengan jadwal hisab dan rukyat yang akurat. Namun, masyarakat tetap perlu memahami bahwa yang menjadi dasar hukum adalah waktu astronomis terbitnya fajar, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis.
Ustad Abdul Wahid menjelaskan, dalam fikih puasa, batas akhir makan sahur adalah ketika telah jelas terbit fajar shadiq, yakni cahaya putih yang membentang horizontal di ufuk timur. Sementara itu, adzan merupakan sarana informasi yang membantu umat, bukan penentu hakikat waktu itu sendiri.
“Kalau misalnya ada selisih beberapa detik atau menit karena faktor teknis, maka yang menjadi ukuran adalah masuknya waktu Subuh yang sebenarnya,” tambahnya.
Ia mengimbau umat Islam agar tidak terjebak pada formalitas bunyi adzan semata, tetapi memahami esensi dan ketentuan syariat secara komprehensif. Dalam kesempatan tersebut, Ustad Wahid juga mengulas pentingnya memahami dimensi batin puasa sebagaimana dijelaskan dalam kitab Asrarus Shaum (Rahasia-Rahasia Puasa). Kitab ini mengajak umat Islam untuk tidak hanya menjalankan puasa secara lahiriah, tetapi juga menyelami makna spiritualnya.
Dalam Asrarus Shaum, puasa dijelaskan memiliki tiga tingkatan:
- Puasa umum (shaum al-‘umum) – menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan.
- Puasa khusus (shaum al-khusus) – menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa.
- Puasa khususul khusus – memurnikan hati dari selain Allah.
“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan keikhlasan, kesabaran, dan integritas. Inilah rahasia puasa yang sering kali terlewat,” terangnya.
Nilai keikhlasan yang dibangun dalam puasa melatih seseorang untuk bekerja tanpa pamrih, karena puasa adalah ibadah yang sangat personal—hanya Allah yang benar-benar mengetahui kualitasnya. Lebih lanjut, Ustad Abdul Wahid mengaitkan hikmah puasa dengan integritas dalam kehidupan sosial, termasuk dalam pengabdian sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Menurutnya, puasa melatih pengendalian diri—kemampuan menahan godaan, menjaga amanah, dan bekerja secara profesional.
“ASN yang berpuasa dengan pemahaman yang benar akan terbentuk karakter integritasnya. Ia terbiasa jujur meskipun tidak diawasi. Sebagaimana orang berpuasa yang tetap tidak makan walau sendirian,” ujarnya.
Puasa, kata Ustad Wahid adalah madrasah akhlak. Kesabaran dalam menghadapi rasa lapar dan lelah menjadi latihan mental untuk tetap tenang dalam menghadapi tekanan pekerjaan.
Keikhlasan dalam beribadah menjadi fondasi etos kerja yang bersih dari korupsi dan penyalahgunaan wewenang.
"Adzan itu penting sebagai syiar dan penanda. Tetapi kita harus tahu bahwa syariat memiliki dasar ilmiah dan dalil yang jelas. Demikian pula puasa, ia bukan hanya ritual tahunan, tetapi proses pembentukan karakter dan spiritualitas,” jelasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....