Marah dan Ghibah Bisa Membuat Pahala Puasa Kosong

  • 25 Feb 2026 13:00 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Fenomena puasa tanpa pahala menjadi sorotan dalam acara Mutiara Pagi Programa 1 RRI Madiun, Minggu ()22/2/2026). Dalam acara tersebut, narasumber Ustaz Santoso, mengingatkan umat Islam agar tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga sikap serta perilaku selama Ramadan.

Ustadz Santoso menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama berkurangnya pahala puasa adalah amarah yang tidak terkendali.

“Orang yang marah itu mengurangi nilai pahala. Kalau marahnya terus dari pagi setelah salat subuh sampai magrib, puasa tidak batal, tapi pahalanya kosong,” ujar Ustadz Santoso.

Selain amarah, kebiasaan ghibah atau membicarakan keburukan orang lain juga menjadi faktor yang dapat menghilangkan nilai puasa. Ia menekankan bahwa praktik tersebut kini semakin mudah terjadi, termasuk melalui media sosial dan pesan berantai di telepon genggam.

“Orang yang senang mengghibah, membicarakan orang lain, baik secara langsung dengan teman, tetangga, atau juga dengan Hp, ada info-info hoaks itu di share ke sana kemari sehingga menambah banyaknya fitnah, maka nilai puasanya menjadi kosong,” tegasnya.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menjaga lisan dan penggunaan teknologi selama Ramadan. Menurutnya, telepon genggam seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal yang menambah nilai ibadah, bukan sebaliknya.

“Bagusnya di bulan Ramadan ini Hp diisi dengan solawat, membaca Al-Qur’an, mendengar tausiah-tausiah dari para ustaz, kiai, para habib semuanya dalam rangka menambah bobotnya, menambah nilainya daripada kita berpuasa, daripada melihat maksiat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ustadz Santoso menegaskan bahwa kesucian Ramadan harus dijaga dari segala bentuk dosa, baik yang bersumber dari hati, lisan, pikiran, maupun pancaindra lainnya.

“Terganggunya nilai kesucian Ramadan dari hati yang kotor, dari mulut yang kotor, dari pikiran yang kotor, dari pandangan yang kotor, dari mendengarkan sesuatu yang kotor. Jadi suci itu dijaga dari aktivitas-aktivitas yang mengandung nilai dosa,” katanya.

Ia pun menyimpulkan bahwa esensi puasa sejatinya adalah pengendalian diri secara menyeluruh. Bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga konsisten dalam melakukan kebaikan serta menjauhi perbuatan dosa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....