Jerman Tersingkir, Ini Respons Bintang Arsenal

  • 30 Jun 2026 09:33 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Tidak ada upaya untuk mencari alasan. Tidak ada pula kalimat diplomatis yang biasa terdengar setelah sebuah kekalahan besar. Kai Havertz memilih kejujuran.

Sesaat setelah langkah Jerman terhenti di Piala Dunia, penyerang Arsenal itu melontarkan kritik yang terdengar lebih seperti pengakuan daripada pembelaan. Dikutip dari akun X jurnalis ternama, Fabrizio Romano, Haverts menyatakan bahwa mereka mengacaukan Jerman untuk kedua kalinya di dua edisi Piala Dunia. “Saya tidak bisa berkata-kata. Ini Piala Dunia kedua saya, dan kami mengacaukannya untuk kedua kalinya,” ujarnya.

“Beberapa turnamen terakhir adalah bencana.” Pernyataan itu menggambarkan frustrasi yang telah lama menumpuk di sepak bola Jerman. Negara yang pernah menjadi simbol konsistensi dan efisiensi kini justru identik dengan kegagalan di turnamen besar. Dalam satu dekade terakhir, Jerman mengalami penurunan yang sulit dibayangkan ketika mereka mengangkat trofi Piala Dunia 2014 di Brasil. Saat itu, Der Panzer dianggap sebagai standar emas sepak bola internasional. Akademi pemain mereka dipuji. Sistem pembinaan mereka ditiru. Generasi emas yang dipimpin pemain-pemain seperti Thomas Müller, Toni Kroos, dan Manuel Neuer dianggap mampu menjaga dominasi Jerman selama bertahun-tahun. Namun kenyataannya berbeda.

Piala Dunia 2018 berakhir dengan kegagalan di fase grup. Piala Dunia berikutnya juga tidak mampu mengembalikan reputasi yang hilang. Kini, generasi baru yang diwakili Havertz kembali harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Jerman belum menemukan jalan keluar dari krisisnya. Yang membuat pernyataan Havertz menarik adalah nada introspeksi yang digunakan. Ia tidak menyalahkan wasit, jadwal pertandingan, atau faktor keberuntungan. Ia justru mengakui bahwa kegagalan tersebut berasal dari dalam tim sendiri.

Bagi seorang pemain yang memasuki usia matang dalam kariernya, pengakuan semacam itu menunjukkan bahwa para pemain mulai memahami besarnya masalah yang dihadapi sepak bola Jerman. Talenta masih tersedia. Nama-nama besar masih menghiasi skuad. Tetapi kualitas individu belum mampu diterjemahkan menjadi performa kolektif yang konsisten di panggung terbesar. Bagi para pendukung Jerman, komentar Havertz mungkin terasa menyakitkan. Namun justru karena itulah pernyataan tersebut penting.

Terkadang sebuah kebangkitan tidak dimulai dari kemenangan, melainkan dari keberanian untuk mengakui kegagalan. Dan setelah tersingkir lagi dari turnamen besar, Havertz tampaknya memilih jalan itu.

Kini pertanyaan berikutnya bukan lagi mengapa Jerman gagal. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah federasi, pelatih, dan para pemain mampu menjadikan kegagalan itu sebagai titik balik, atau justru membiarkannya menjadi bab berikutnya dari sebuah kemunduran yang semakin panjang. (NK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....