Student Athlete SMKN 1 Takeran Juara Kumite Senior
- 15 Feb 2026 11:33 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Kabupaten Magetan. Oktavia Jaya Mukti, siswi kelas XII SMKN 1 Takeran, sukses menyabet Juara 1 Kumite -55 Kg Perorangan Senior Putri dalam ajang Madiun Open yang digelar awal tahun 2026.
Siswi yang akrab disapa Okta itu turun di kelas senior meski usianya masih di bawah rata-rata peserta kategori tersebut. Kejuaraan berlangsung pada akhir Januari hingga Februari 2026 dan menjadi ajang pembuktian atas konsistensi latihan yang ia jalani.
“Alhamdulillah bisa juara satu. Saya ikut itu karena ingin menambah jam terbang,” ujar Okta.
Dalam kejuaraan tersebut, Okta sebenarnya berada pada kategori usia Under 21. Namun karena kelas tersebut tidak tersedia, ia memilih langsung naik ke kategori senior. Keputusan itu bukan tanpa risiko. Ia harus berhadapan dengan atlet-atlet yang lebih matang secara usia dan pengalaman. Namun keberaniannya terbayar manis dengan raihan podium tertinggi.
“Waktu itu kelas under tidak ada, jadi langsung ke senior. Saya ikut itu gara-gara jam terbang saja,” jelasnya.
Kemenangan di Madiun Open 2026 menjadi momentum kebangkitan Okta. Sebelumnya, ia sempat mengalami kekalahan dalam ajang Kejurprov di Surabaya. Latihan intensif ia jalani hampir setiap hari menjelang pertandingan, bahkan bisa berlangsung dari sore hingga malam hari.
“Kemarin itu saya kurang latihan karena kondisi fisik saya tidak memungkinkan. Habis kalah itu langsung masuk latihan lagi, tidak cuma di ranting tapi juga latihan sendiri di rumah. Kalau saya tidak bisa menahan capek, saya pasti kalah. Jadi harus dipaksa,” ungkapnya.
Dalam cabang karate, terdapat dua nomor pertandingan yaitu kata (jurus) dan kumite (tarung). Okta memilih fokus di kumite karena merasa lebih cocok dengan karakter permainannya. Di kelas -55 kilogram, kemenangan ditentukan berdasarkan perolehan poin dalam durasi dua menit pertandingan. Atlet yang lebih banyak mengumpulkan poin atau unggul signifikan sebelum waktu habis dinyatakan sebagai pemenang.
“Kalau di kata itu lebih fokus ke speed dan power. Kalau kumite fokus ke serangan dan teknik. Saya lebih cocok di kumite,” jelasnya.
Sejak kelas 4 SD, Okta sudah mengenal karate atas dorongan orang tua. Meski awalnya sempat menolak, kini olahraga bela diri tersebut justru menjadi jalan prestasinya. Ia bahkan telah mengoleksi hampir 30 medali dari berbagai kejuaraan.
“Mau ke-30 kurang satu. Targetnya 30 dulu baru vakum,” ujarnya sambil tersenyum.
Saat ini, Okta tercatat sebagai atlet Kabupaten Magetan dan memiliki target lebih besar. Ia juga mengungkapkan cita-cita jangka panjang untuk bisa membela Indonesia di ajang internasional.
“Saya ingin lanjut jadi atlet Jawa Timur. Syaratnya harus juara terus,” katanya.
Sebagai atlet kumite, Okta menyadari risiko cedera cukup tinggi. Ia mengaku pernah mengalami cedera kaki sehingga harus menyusun strategi saat bertanding. Untuk menjaga performa, ia disiplin mengatur pola tidur, pola makan, serta berat badan sesuai kelas tanding.
“Kalau mau cari poin, biasanya pakai tangan dulu. Baru kalau sudah aman pakai kaki,” ungkapnya.
Okta mengaku dukungan keluarga dan sekolah menjadi faktor penting dalam perjalanannya sebagai student athlete.
“Saya mengucapkan terima kasih untuk keluarga, pelatih, Bapak Ibu guru SMK Negeri Takeran yang sudah support dan memfasilitasi saya,” ucapnya.
Meski saat ini duduk di bangku kelas XII, Okta belum berniat berhenti dari dunia karate. Ia berencana tetap fokus sebagai atlet sembari melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....