Silaturrahmi Lintas Iman: Peristiwa Kultural Sarat Makna Teologis
- 21 Okt 2025 11:21 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun: Ada sesuatu yang menenangkan dari hujan yang turun di Jalan Slamet Riyadi pada Minggu sore, 19 Oktober 2025. Hujan itu seperti simbol: membersihkan, menyejukkan, dan menyatukan setiap langkah manusia yang sedang belajar mengenal Tuhan lewat wajah sesamanya. Di bawah langit Madiun yang perlahan meredup, komunitas Gusdurian Madiun mengadakan kegiatan walking tour di Gereja Katolik Mater Dei. Kegiatan ini sederhana, sekadar silaturahmi lintas iman, tetapi sesungguhnya merupakan peristiwa kultural yang sarat makna teologis, sosial, dan kemanusiaan.
Pak Daud Cahyono memperkenalkan seluruh keluarga besar gereja Mater Dei: Romo Tedi yang bijaksana, Pak Sigit yang aktif di bidang kerasulan umum, Bu Agnes Adhani dari seksi hak, Pak Masi sang pendidik, Pak Tri sang penjaga keamanan gereja, Pak Okta dari bidang IT, serta Pak dan Bu Apung, pasangan yang juga menjadi jembatan antara Gusdurian dan umat Katolik. Di sisi lain, perkenalan dari pihak Gusdurian dipandu oleh koordinator kami, Mas Haris Saputra, bersama Pak Titus Tri Wibowo, Mas Septian, Pandu Bittama, Faiz Sulthon, Yoga, Yusuf, dan Fileski. Dalam kesempatan itu, Fileski membacakan tiga puisi , tentang kopi, mangga, dan doa di perempata, tiga simbol sederhana yang mencoba berbicara tentang cinta, kebersamaan, dan humor lintas iman.
Kegiatan lintas iman semacam ini bukan hanya tentang mengenal agama lain, melainkan tentang mengenali kembali kemanusiaan. Seperti kata filsuf Martin Buber, “Semua kehidupan sejati adalah pertemuan.” Pertemuan antara Gusdurian dan umat Katolik di Gereja Mater Dei bukan sekadar formalitas sosial, melainkan perjumpaan eksistensial yang mengingatkan kita bahwa Tuhan hadir di ruang dialog, bukan di benteng keyakinan yang tertutup.
Ketika Romo Tedi mengajak berkeliling gereja, menjelaskan makna benda-benda liturgi dan kisah di baliknya. Spiritualitas tidak lahir dari dogma, melainkan dari cara manusia memaknai simbol. Salah satu momen yang membekas adalah ketika Romo Tedi berkata bahwa jika suatu saat ia dipindah tugaskan, ia akan meninggalkan rumahnya tanpa membawa apapun, kecuali pakaian yang ia kenakan.
Ada kesamaan diam-diam antara ajaran Yesus, Buddha, dan para wali sufi: semua mengajarkan pelepasan diri dari ego. Dalam pertemuan lintas iman itu, ego-ego keagamaan perlahan meleleh di bawah naungan percakapan dan tawa bersama. Mas Haris Saputra, sebagai koordinator Gusdurian Madiun, mengatakan dengan nada reflektif, “Kegiatan ini adalah latihan menjadi manusia sebelum menjadi pemeluk agama," katanya. Sebuah pernyataan yang sederhana namun mengguncang akar kesadaran. Sementara Pak Titus Tri Wibowo menambahkan, “Dialog lintas iman bukan tentang siapa benar dan siapa salah, tapi tentang siapa yang berani mendengarkan," tambahnya.
Dalam konteks sosial-politik hari ini, kegiatan semacam ini menjadi bentuk perlawanan kultural terhadap intoleransi yang kian banal. Ketika ruang publik sering dibanjiri ujaran kebencian dan narasi pemisahan, pertemuan lintas iman di Gereja Mater Dei justru menjadi ruang penyembuhan. Ia mengajarkan bahwa harmoni bukan utopia, melainkan hasil kerja bersama yang dilandasi oleh rasa ingin tahu, empati, dan humor keakraban.
Puisi yang dibacakan Fileski, lahir dari pengalaman hidup lintas ruang iman. “Ngopi di Bawah Langit yang Sama” berbicara tentang pertemuan yang membebaskan. “Dialog di Bawah Pohon Mangga” menggambarkan teologi alam yang adil tanpa diskriminasi. Dan “Doa di Persimpangan” menertawakan keseriusan manusia di tengah absurditas kehidupan modern. Ketiga puisi itu menjadi semacam refleksi atas keyakinan bahwa iman sejati tak bisa dibangun di atas ketakutan, melainkan di atas tawa dan kasih.
Fileski mengatakan, Friedrich Nietzsche pernah menulis, “Faith: not wanting to know what is true.” Tapi barangkali Nietzsche keliru bila iman dipahami sebagai ketertutupan terhadap kebenaran lain. Iman justru menjadi kuat ketika ia terbuka. Ketika ia berani menatap wajah lain, tanpa takut kehilangan dirinya. Sebagaimana Gus Dur pernah mengajarkan, “Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela adalah manusia yang dilemahkan atas nama Tuhan," katanya.
Dari kegiatan walking tour ini, dapat dipelajari bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan jalan pulang bagi kemanusiaan kita yang tercerai-berai. Bahwa mengenal umat lain tidak akan membuat iman kita hilang, tetapi justru memperdalamnya. Karena di tengah dialog lintas iman, setiap orang sedang belajar untuk percaya, bukan hanya kepada Tuhan, tapi juga kepada sesama manusia.
Jika Tuhan menciptakan kita berbeda agar saling mengenal, mengapa kita terus berusaha menyeragamkan surga kita? Sebuah pertanyaan yang barangkali tak butuh jawaban, tetapi cukup untuk menuntun kita kembali kepada hakikat: bahwa di bawah langit yang sama, kita semua sedang menempuh jalan pulang yang berbeda, menuju kasih yang satu.
Puisi Fileski Walidha Tanjung
Ngopi di Bawah Langit yang Sama
Di sebuah warung kopi bernama Damai Semesta
ada ustaz, romo, pendeta, dan biksu
mereka sedang berdebat
soal siapa paling sabar dalam menjalani hidup
Lalu pemilik warung kopi nyeletuk,
“Yang paling sabar itu saya, Pak,
setiap hari saya terus dengar khotbah gratis.”
Langit di atas pun tersenyum, dan berkata:
“Lihat, akhirnya kalian setuju
bahwa ada yang lebih cepat menyatukan hati,
ketimbang khutbah panjang, tanpa secangkir kopi.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....