"Sumbu Pendek", Istilah Populer untuk Si Emosian: Ini Kata Psikolog
- 06 Mei 2025 08:58 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : Istilah "sumbu pendek" kerap digunakan di masyarakat untuk menggambarkan seseorang yang mudah marah atau kurang mampu mengelola emosinya. Dalam istilah ini, seseorang diibaratkan seperti sumbu yang cepat terbakar dan meledak hanya dalam waktu singkat. Mereka cenderung bereaksi secara eksplosif terhadap hal-hal yang memicu amarah, sering kali dalam bentuk teriakan, kata-kata kasar, atau tindakan impulsif lainnya.
Psikolog Andy Cahyadi, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa perilaku seperti ini bisa muncul karena berbagai faktor.
“Banyak faktor. Bisa jadi (faktor) bawaan dan lingkungan. Tapi lebih banyak dipengaruhi faktor lingkungan, meskipun ada beberapa orang yang memiliki faktor bawaan. Misalnya orang tuanya tempramental,” ungkapnya saat sesi obrolan Jaga Malam PRO 2 RRI Madiun.
Andy menekankan bahwa lingkungan sekitar memainkan peran penting dalam pembentukan karakter seseorang, terutama dalam hal pengendalian emosi. Menurutnya, kebiasaan marah yang tidak terkendali kerap muncul karena seseorang tidak terbiasa mengontrol emosinya sejak dini.
“Kontrol emosi itu sebenarnya sesuatu yang dilatih,” jelasnya.
Salah satu contoh nyata adalah kebiasaan anak-anak yang meluapkan emosi saat bermain game. Jika tidak dibimbing dengan baik, kebiasaan ini bisa terbawa hingga dewasa.
“Kalau sedang main game dan marah, apa yang harus dilakukan? Anak-anak perlu berlatih itu. Jika anak tidak dikasih tahu, maka itu (marah-marah saat main game) bisa berulang lagi dan lagi setiap dia emosi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Andy menjelaskan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam memberikan contoh pengelolaan emosi yang sehat. Ia menyoroti pentingnya edukasi melalui teladan. Untuk itu, orang tua perlu terus memberikan pengingat dan pembelajaran, bahkan jika dilakukan secara tidak langsung.
“Pelampiasan marah itu bisa jadi meniru orang tuanya. Misal kalau orang tua marah dan melampiaskannya dengan melempar barang, maka bisa jadi anak pun akan melakukan hal yang sama. Yang penting jangan sampai bosan mengingatkan,” ujar Andy.
Dalam menghadapi situasi emosional, Andy menyarankan agar seseorang mengambil jeda sejenak untuk menenangkan diri. Kesadaran akan kondisi emosional menjadi langkah awal untuk menghindari tindakan yang merugikan.
“Jika kita sadar sedang emosi, maka kita bisa ambil jeda, melakukan relaksasi, istighfar, dan usaha pengendalian emosi yang lain,” pungkasnya.
Sumbu pendek bukanlah label permanen, melainkan tantangan yang bisa diatasi dengan latihan, kesadaran diri, dan lingkungan yang mendukung. Edukasi pengelolaan emosi sejak dini menjadi kunci agar generasi mendatang lebih siap menghadapi tekanan tanpa kehilangan kendali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....